RSS

“Broken Vow” Chapter 3

Title                : “Broken Vow” 맹세하다 [MyungJong] Chapter 3end 

Cast                : Kim Myung Soo and Lee Sung Jong

Genre             : Angst, fluff

Rate                : PG

Words             : 1794

Author            : Summer

Warning         : Boy x Boy, OOC, Typos, I’m not good author, Please R-C-L

                         Saya ga mau tahu pokoknya kalian harus like dan komen setelah baca

Link Chapter 2 : https://www.facebook.com/notes/ff-nya-infinite-couple-myungjong/broken-vow-chapter-2/446335768750819

Link Chapter 1 : https://www.facebook.com/notes/ff-nya-infinite-couple-myungjong/broken-vow-chapter-1/441479275903135

 

                                                                        ***

“Aku.. aku peramal… Aku, aku membawa kabar dari anaemu..”

***

Hanya tatapan datar yang dapat diberikan oleh Kim Myungsoo. Rasa pedih rasanya masih melekat begitu kuat didasar hatinya. Sungjong terus menggigiti bibirnya, mencoba mencari cara yang mampu mengalihkan perhatian Myungsoo. Ia mengedarkan pandangannya kesekitar mencari setidaknya benda yang mengingatkan kenangan dirinya dan Myungsoo.

“Ajumma, bilang padanya apakah ia masih ingat dengan lemon candy yang dijanjikannya?” bisik Sungjong tepat ditelinga yeoja paruh baya itu.

Ajumma itu pun mengangguk lalu tersenyum, namun Myungsoo malah bergidik tak mengerti dan beranjak untuk menutup pintu pagar kayu itu. “Chakkaman, Kim Myungsoo apakah kau masih ingat dengan janjimu akan lemon candy yang akan kau berikan padanya?” ucap yeoja itu menghentikan langkah Myungsoo.

Seperti ada gertakan dalam benaknya, ia pun menoleh dan menatap yeoja itu dengan bidikan matanya yang tajam. Ia mencermati yeoja itu dari ujung kaki hingga ujung kepala, kemudian melihat sekelilingnya yang nampak tak ada seorang pun berada disana. Sedikit merasa ada hawa lain diantara mereka, ia pun bergidik dan sontak bulu-bulu roma pada tubuhnya bangkit.

“Dari mana kau ketahui hal itu?” ucap Myungsoo heran.

“Dia yang bilang kepadaku, dia.. namja yang sangat cantik itu Lee Sungjong. Kini namja itu ada disini, tepat menghadapmu, dialah yang membisikan kalimat itu padaku,” jelas peramal itu dengan mendetail.

Myungsoo mengerutkan kening tak mengerti, bagaimana bisa ia menerima hal yang tidak masuk akal itu. Ia mengedarkan pandangan tepat kedepan, lurus dengan tubuhnya berdiri sekarang. Yah, memang terasa berbeda, seperti ada atmosfer lain.

“Aku masih tidak percaya, bagaimana bisa hal ini terjadi. Sungjong tidak mungkin menjadi hantu,” ucap Myungsoo mencoba mengelak nalurinya.

“Apakah ketika aku menyentuhnya, ia dapat merasakannya?” tanya Sungjong polos.

Peramal itu melirik kearah Sungjong lalu mengangguk.

“Pejamkanlah matamu anak muda, konsentrasi dengan baik maka kau akan merasakan kehadirannya,” ucap yeoja itu.

Myungsoo mencoba berfikir sebelum ia memejaman kedua maniknya, ia menghirup nafas dengan baik-baik.

“Sekarang coba bayangkan wajahnya,” ucap peramal itu lagi.

Sungjong melangkah ragu, dengan sangat hati-hati ia menyentuh pergelangan tangan Myungsoo. Memberikan energi dingin dari arwahnya. Di sentuhnya wajah Myungsoo tiap inci, dengan lembut ia melakukannya. Sementara Myungsoo kini mulai membuka kedua matanya perlahan.

Sesosok bayangan tipis akan bentuk tubuh yang menyerupai Sungjong tengah berdiri tepat dihadapannya. Jari-jari lentik nan bercahaya itu memberikan rasa nyaman baginya. Ia terlihat tengah menitikan air mata namun sematan senyumnya dapat membuat Myungsoo tersenyum.

“Sentuhlah dia dengan perasaan, maka kau dapat merasakannya,” ucap peramal itu pada Myungsoo.

Myungsoo pun menggerakan tangannya perlahan kearah wajah Sungjong. Sangat pelan, hingga tangannya itu terasa bergetar. Tangis yang berurai dari kedua matanya membuat dirinya begitu sesak dan terisak pilu. Lembut, kulit lembut itu akhirnya dapat Myungsoo rasakan kembali. Permukaannya sangat dingin, jelas berbeda dengan suhu tubuhnya.

“Kau kah itu Jongie? Aku merindukanmu…” isak Myungsoo.

“Ne… hyung, aku juga. Hyung, dapatkah kita berbicara didalam?” tanya Sungjong begitu lembut terdengar.

Myungsoo mengangguk lalu berjalan dengan cepat kedalam, membukakan pintu itu untuk keduanya. Ia sama sekali tak ingin melepaskan genggamannya yang begitu longgar itu. Ia bahkan berulang kali menatap wajah Sungjong untuk memastikan dirinya masih berada ditempat itu.

“Ada beberapa masalah yang membuat arwahku masih berada di bumi. Pertama, karena kau tak juga merelakan kepergianku dan kedua karena kau memiliki sebuah janji yang begitu kuat kepadaku,” ucap Sungjong.

Myungsoo mengangguk lalu menundukan kepalanya, “mianhae”.

“Aku tidak punya waktu banyak untuk itu, kuharap kau dapat menepatinya dan… merelakan kepergianku…” lirih Sungjong.

Yeoja itu menelan saliva mendengar lirih suara Sungjong, jelas namja itu sangat berbeda dengan yang ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia terlihat jauh lebih dewasa dengan apa yang ia pikirkan.

“Tapi…” ucapan Myungsoo terhentikan saat kedua matanya menatap bening mata Sungjong yang berusaha meyakinkan Myungsoo.

Myungsoo mengangguk mengerti, “aku akan melakukannya. Untukmu Sungjongie”.

 

***

 

Hari ini, 1 Oktober 2012 aku melangkah sendiri ke area bandara. Yah, mungkin itulah yang terlihat oleh orang-orang karena hanya terlihat aku yang berada ditempat ini. Aku berjalan diringi senyum kearah kanan. Agak terlihat aneh sepertinya oleh orang lain, tapi aku tersenyum kepada sosok bayangan yang semakin jelas kulihat. Aku tak dapat terus menggenggam kedua tangannya sehingga aku hanya mampu menatap wajahnya yang putih bercahaya itu.

Aku menarik jaketku lagi, ingin rasanya aku menyelimuti tubuhnya yang kurus itu dengan jaketku. Namun, hal itu akan sia-sia saja karena benda ini tak akan berfungsi menutupi tubuhnya dan akan kembali terjatuh dilantai. Benda ini tidak memiliki hati yang mampu merasakan keberadaanya sehingga ia tidak bisa menyentuh namja manis yang berada disampingku.

“Berhenti menatapku seperti itu, karena kau akan disangka orang gila hyung…” ucap Sungjong kembali mengingatkanku.

Aku melangkah kian pasti kedalam pesawat korean air bertujuan ke Tokyo. Hari ini aku akan menepati janjiku kepadanya. Aku memesan dua bangku kosong untuk keberangkatan hari ini. Sungguh, ini adalah hal gila karena orang akan melihat aku duduk sendirian tanpa seorang pun disisiku.

Aku menuntunnya saat hendak memijakan kaki kedalam tangga pesawat. Beberapa mata yeoja memandangku geli dengan tingkahku. Namun, rasa cintaku pada Sungjong jauh lebih mengungguli rasa canggungku. Aku bahkan menuntun tangannya untuk mencari tempat duduk. Pramugari sedikit mengerutkan keningnya bingung saat aku memasangkan sabuk pengaman di pinggang Sungjong.

“Aku meminta dua anggur,” ucapku kepada pramugari itu.

“Ya~ kau lupa? Aku tidak membutuhkan itu,” ucap Sungjong geli.

“Biarkan… biar aku yang minum nanti,” tawaku.

Sungjong duduk tepat disebelah jendela sehingga ia dapat menatap putihnya awan-awan yang menghias sekeliling kami saat ini. Namun, jauh dari dugaanku ia malah menitikan air matanya. Ku raih wajahnya, kutatap kedua matanya yang melihat kebawah.

“Uljjima, bukannya kau selama ini ingin melihat awan?” ucapku sambil menyeka air matanya.

Ia mengangguk pelan, “hyung… mungkin nanti setelah aku terbebas dari janjimu aku akan berada jauh diatas angkasa. Mungkin aku hanya sendiri disana. Nampaknya awan-awan ini akan membatasi pandanganku terhadapmu nanti. Hyung… aku..”

Tangisnya pun pecah dalam pelukanku. Jika harus bersedih, maka akulah yang harus bersedih akan hal itu Sungjong-ahh. Aku tak akan mampu melihatmu sedikit pun nantinya. Merasakan kehadiranmu saat ini adalah hal terindah bagiku. Setidaknya aku mampu menunaikan segala permintaanmu.

“Kurasa aku tak pantas menangisinya. Aku akan membuatmu tak merelakan kepergianku nanti,” tawanya mencoba mengatasi kepedihannya.

 

saranghanda mianhada
geurae deoneun andwigesseo
nan dagagal ja gyeok jocha eobseo
nal saranghaji ma

(Infinite – Only Tears)

 

***

 

 

Sesak ramai penuh dengan orang asing, itulah yang terlintas pertama kali dipikiran mereka saat mereka menginjakan kaki pertama kali di Disney Land, Tokyo, Jepang. Myungsoo menyematkan senyumnya, dan tanpa ragu menarik tangan Sungjong untuk segera bergegas masuk kedalam. Matanya bergerak memutar mengelilingi arena Disney Land yang begitu luas. Entah arena mana yang harus ia kunjungi terlebih dahulu.

“Komedi putar,” ucap Myungsoo lalu menarik Sungjong untuk bergegas kesana. Ia duduk dibelakang Sungjong disebuah kuda single. Mereka duduk bersama diatas kuda-kudaan dengan kedua tangan Myungsoo yang melingkar di perut Sungjong penuh kasih.

Tawa rasanya selalu tak pernah hilang dari keduanya. Myungsoo bahkan tak malu mencium pipi Sungjong. Entah apa yang akan dilihat orang lain saat itu, ia tak lagi mempermasalahkan hal tersebut. ia hanya ingin merasakan kebahagiaan ini.

“Kau ingin naik apalagi?” tanya Myungsoo sambil merebahkan kepala Sungjong dibahunya.

“Eumm.. roller coaster?” ucap Sungjong sambil menunjuk arena yang mengerikan itu.

“Baiklah, siapa takut…”.

Myungsoo mengeratkan sabuk Sungjong, Sungjong tertawa melihat nampyeonnya itu.

“Hey, aku boleh duduk disini?” tanya seseorang dengan bahasa inggrisnya.

“Apa kau tidak lihat? Disini ada orang, maaf kau tidak bisa,” ucap Myungsoo.

Sungjong menatap mata Myungsoo baik-baik mencoba memberikan pengertian bahwa dirinya saat ini benar-benar tidak dapat dilihat orang lain.

“aaa… baiklah, aku lupa,” Myungsoo.

***

Tawa, teriakan dan kasih sayang, hari ini aku adalah mahluk yang paling beruntung Tuhan. Terima kasih karena kau telah memberikan kesempatan ini padaku. Tangannya melekat manis dipinggangku, aku tak dapat mengelaknya meskipun aku tahu ini akan terlihat aneh oleh orang lain.

Aku merasa nyaman saat ia memeluk tubuhku saat aku berteriak ketakutan menaiki roller coaster dan permainan yang memutar-mutar semacam baling-baling. Aku bahkan tak mampu menangis saat ia tertawa terbahak-bahak atas tingkahku. Entah sampai kapan ini akan berakhir.

Kedua mataku kini menatap penjual lemon candy di toko kecil didalam Disney Land. Kurasa ia melihatnya juga, oleh karena itulah ia menarik tanganku untuk menghindarinya. Namun, aku terus berusaha menarik tangannya untuk kembali ketempat itu. Akhirnya egonya pun dapat terkalahkan. Ia kembali melangkah mundur ketempat yang kuinginkan itu.

“Apa kau menginginkan ini berakhir?” ucap Myungsoo jenuh.

Aku menggeleng pelan, namun entah mengapa hatiku jelas berkata lain. Sesuatu seperti mendorongku untuk berbuat lain. “Aku tidak ingin ini berakhir, tapi kenyataannya ini harus berakhir. Hyung, ingatlah pada tujuan awalku..”

Ia mengangguk lesu, “berapa harga lemon candy ini? Bisakah aku membelinya sekarung besar?”

“Sekarung besar? Kau gila?” ucapnya dengan bahasa inggris yang terdengar aneh.

“Cukup belikan aku satu buah saja, itu cukup,” jawabku.

“Baiklah, aku mau satu buah saja, bisakah kau memberikannya satu buah?”

Penjual itupun memberikan Myungsoo satu buah dengan harga Cuma-Cuma. Ia memberikannya kepadaku lalu bergegas menarikku kesebuah bangku panjang yang terbuah dari kayu. Aku tersenyum manis padanya, ku buka genggaman tanganku dan ku keluarkan lemon candy itu dari tanganku.

Kubuka bungkusnya dengan sangat perlahan.

“Pasti rasanya sangat enak, hyung,” ucapku begitu semangat lalu memakan benda itu tanpa berpikir lagi.

Hey, bukankah aku tidak dapat mengkonsumsi apa pun benda bumi? Lalu mengapa aku dapat memakan permen ini? Ia memandangi wajahku dengan lekat, membuatku sedikit tidak nyaman.

“Kau mau permen ini hyung?” aku bergerak mendekatinya.

Kurapatkan tubuhku hingga tak ada lagi ruang yang membatasi gerak kami. Ku lekatkan bibirku tepat dibibirnya. Kupejamkan mataku perlahan, kurasakan rasa hangat yang membatasi jarak antara kami. Ia melumat bibirku dengan segenap rasa cintanya.

 

***

 

Kupejamkan kedua mataku saat bibirnya melekat sempurna dibibirku ini. Lembut dan rasanya masih sama seperti dulu. Ia memindahkan lemon candy itu kedalam mulutku, memberikan sensasi asam dan manis dalam mulutku. Aku membalas ciumannya dengan penuh rasa cintaku. Ku peluk tubuhnya dengan sangat lembut.

Namun, perlahan dekapan itu terasa semakin ringan. Bau harus tubuhnya perlahan sirna, hingga akupun membuka kedua mataku. Ku lihat bayangan itu yag semakin buram. Aku menghentikan bibirku, dan menatapnya lekat-lekat berharap ini tak segera berakhir. Namun, semakin aku meyakini hatiku. Bayangannya semakin tipis dan menghilang.

“Sungjongiee…”

“Hyung, aku mencintaimu… aku akan menunggumu disana. Jalanilah hidupmu dengan baik saat ini. Aku akan merindukanmu, selalu”.

Dan, bayangan itupun sirna, entah kemana. Ku kecap lagi permen didalam mulutku, saat merasakan kesendirianku dinegara orang ini. Apa pun yang terjadi, ini adalah hal terindah dan terbaik yang pernah ku alami disisa momenku bersamanya.

o nan..nege jul su itneunge eobseo, missing U
ddaddeuthan maldo mothae, I missing U
gamhi baral sudo eobseo I missing U
ireohge mileonae
sesang nuguboda neoreul saranghagie chama deo

(infinite – only tears)

 

-FIN

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada November 1, 2012 in Fanfiction

 

“Broken Vow” 맹세하다 [MyungJong] Chapter 1 – 3end

Title                : “Broken Vow” 맹세하 [MyungJong] Chapter 1 – 3end 

Cast                : Kim Myung Soo and Lee Sung Jong

Genre              : Angst, fluff

Rate                : PG 

Words             : 2425

Author            : Summer

Warning          : Boy x Boy, OOC, Typos, I’m not good author, Please R-C-L

                         Saya ga mau tahu pokoknya kalian harus like dan komen setelah baca nih FF

 

 

 

Summary :

Vow, janji… dimanapun itu setiap kepercayaan pasti menyuruh umatnya untuk menjalankan atau menepati janji… But, bagaimana dengan sebuah janji yang telah rusak… akankah masih ada kewajiban bagi orang tersebut untuk menuntut janji mereka?

A/N : Hal ini pernah terjadi pada saya. Mungkin juga pada Anda… Dan, ini lebih menyakitkan…

 

.

.

.

“Aku akan mengajakmu ke Waltz Disney dan membelikanmu sekantung atau mungkin sekarung lemon candy, bagaimana?” ucapnya dengan begitu jelas terdengar ditelinga Sungjong, namja berwajah cantik dengan tubuhnya yang begitu langsing.

Namja cantik itu hanya tertawa dengan tangan kanannya yang menutupi sebagian mulutnya. Meski terlihat pucat, namja cantik itu begitu ceria dan tak pernah melepas senyumnya. Ia pun menjatuhkan satu persatu telapak kakinya ke permukaan lantai. Membiarkan keduanya menapaki keramik yang begitu dingin tanpa alas kaki dan berjalan pasti menuju ranjang yang terbuat dari besi dan beralaskan kasur busa berbalut sprei putih.

Ia pun duduk diatas ranjangnya dan memeluk sebuah teddy bear berukuran cukup besar berwarna putih dengan begitu gemas. Diliriknya kembali namja tampan berpandangan tajam yang kini mulai berjalan mendekatinya. Dia adalah Myungsoo, namja chingu dari Sungjong. Mungkin bisa dikatakan Myungsoo adalah suaminya karena satu tahun yang lalu mereka telah mengikrarkan sebuah janji di sebuah gereja di sebuah desa di daerah Mokpo tanpa seorang pun saksi, hanya Tuhan dan malaikatlah yang menyaksikan ketulusan cinta mereka.

Sebuah cincin bertahtahkan berlian yang dibuat oleh keduanya dengan spidol menjadikan sebuah pengikat diantara keduanya yang hanya mampu dilihat oleh mereka. Cinta, bagi mereka kata itu tak cukup hanya dideskripsikan lewat lisan atau pun perbuatan. Karena kata itu harus selalu melekat di sanubari sebagai pengingat bahwa kau telah memilikinya dan kau telah menjadi miliku.

“Eumm, oke. Aku akan kebali sembuh,” jawab Sungjong sambil mengangguk mengiyakan janji yang dibuat oleh pasangannya.

Dengan menatap sepasang manik hitam milik Sungjong, Myungsoo pun meyakinkan jika ia pasti akan menepatinya entah bagaimana pun itu caranya. Memang belum lama ini ia telah diterima disalah satu perusahaan IT terkenal di Korea dengan penghasilan yang bisa dibilang besar. Namun, tagihan rumah sakit dan obat yang harus ditebus untuk Sungjong telah menghabiskan seluruh tabungannya dan membuat dirinya nyaris tak bisa bernafas dan terus berkerja keras.

“Hyung, aku ingin pulang. Bagaimana jika aku dirawat dirumah saja? Aku akan baik-baik saja,” tegas Sungjong tiba-tiba seakan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Myungsoo.

Myungsoo tertegun, menatap Sungjong dengan intens. Lalu menganggukan kepalanya serta membuang pandangannya untuk menghindari harunya yang berlebihan dan membuatnya menangis.

“Tentu, memang sudah waktunya kau pulang. Bukankah kau sekarang sudah tersadar?” tegas Myungsoo dengan seringai kudanya.

Dengan sangat lembut Sungjong meraih tangan kanan Myungsoo menggenggamnya dengan kuat menyalurkan energi hangat dari dalam tubuhnya. Saat Myungsoo menaikan pandangannya perlahan, dilihatnya senyum Sungjong yang begitu cerah yang selalu saja membuatnya bersemangat dan begitu malu padanya.

“Pulanglah, bukankah besok kau berkerja?”

“Akh, ne. Hahaha… aku pulang ne? Jaga dirimu baik-baik,” tawa Myungsoo terdengar begitu aneh dan dipaksakan.

Sungjong pun mengangkat kedua ujung bibirnya, menyimpulkan sebuah senyum untuk mengiyakan perkataan Myungsoo barusan. Dipejamkan kedua matanya saat namja tampan itu mendaratkan sebuah ciuman lembut dikeningnya. Myungsoo menarik selimut putih yang masih terlipat rapih untuk menutupi sebagian tubuh Sungjong. Dibaringkannya namja itu dengan rapih di ranjang.

“Good night,” tukas Myungsoo mengakhiri pertemuan malam ini.

.

.

.

Otaknya tak lagi berkerja sinkron dengan keinginannya. Meski kedua matanya terus menatap layar komputer dan perkerjaan terus menantinya otaknya tak juga terfokus ada perkerjaannya entah mengapa ia terus memikirkan anaenya Sungjong. Haruskah ia memindahkan Sungjong kerumah dan ia rawat sendirian dirumah. Tidak, seharusnya ia dapat mengajak eomma Sungjong untuk tinggal dirumah dan ikut mengurusnya saat Myungsoo pergi berkerja.

Biar bagaimanapun, ia tidak mungkin berhenti berkerja karena ia masih membutuhkan uang untuk kelangsungan hidup mereka. Ia pun menghentikan jari-jarinya yang sedari tadi bergerak begitu cepat diatas keyboard komputer. Sejenak ia tarik nafas dan membuangnya perlahan. Yah, sepertinya memang itu jalan yang terbaik ia juga akan lebih intens bertemu dengan Sungjong nantinya.

Selepasnya dari kantor, Myungsoo pun bergegas pergi ke rumah sakit. Ia tak langsung pergi ke kamar Sungjong, ia memutuskan untuk bertemu dengan dokter yang menangani Sungjong dan berbicara tentang keinginan Sungjong. Tak usah berlama-lama, akhirnya dokter memberikannya ijin. Ia pun bergegas ke administrasi untuk membayar segala tagihan.

“eomma?” ucap Myungsoo saat melihat yeoja yang melahirkan Sungjong berada didalam kamar kelas dua itu.

“Sungjongie, kau bisa pulang malam ini. Aku sudah mengurusnya, kita hanya perlu berkemas sekarang,” terlihat wajah Myungsoo yang begitu bahagia.

“Jinjjayoo? Aigoo, eomma kau ikut kami kan kerumah?”ucap Sungjong manja.

“Hmm… ne, Myungsoo telah meminta eomma untuk hal itu. Bahkan ia meminta eomma untuk mengurusmu saat ia berkerja,” ucap yeoja itu.

“Myungsoo-hyung menghubungimu? Wahh, daebak,” tawa Sungjong meledek Myungsoo.

Myungsoo memang tidak pernah memiliki keberanian untuk menghubungi keluarga Sungjong karena mereka berdua menikah tanpa restu keluarga mereka. Meski pada akhirnya mereka tetap membutuhkan orang-orang tersebut dalam hidup mereka.

“Yaa~ kau tahu bagaimana cara ia berbicara denganku? Sangat sopan sekali membuatku sedikit merinding,” ucap yeoja Busan itu dengan logatnya yang sangat khas.

“Hahaha… jinjja?” Myungsoo tersenyum melihat keceriaan yang begitu lepas dari namja cantik itu.

“Ya ya ya~ terus saja, aku tidak akan membawamu pulang nanti,” Myungsoo menjitak kepala Sungjong pelan.

“Appo, eomma lihatlah menantumu itu. Dia sangat menyebalkan,” Sungjong memeluk lengan eommanya dan menyembunyikan sebagian wajahnya.

“Lalu mengapa kau menikah dengannya pabbo?” eomma pun melepaskan tangan Sungjong.

“Sudah-sudah, ayo kita pulang…” ucap Myungsoo mengakhiri pertengkaran malam ini.

.

.

.

Semangkuk bubur ayam gingseng berhasil membangunkan Sungjong dari tidurnya. Baunya yang begitu harus dan membangkitkan selera makannya membuatnya tak mampu lagi menutup matanya. Ia tolehkan kepalanya kearah bau harum tersebut. dengan perlahan ia berusaha membangunkan tubuhnya dan senderkan di kepala ranjang.

“Sudah bangun rupanya?” Myungsoo masuk kedalam kamar mungil itu dengan selembar kain handuk yang membalut dari pinggulnya.

Sungjong merentangkan otot-otot tubuhnya, sedikit menguap dengan tangan yang tak lepas menutup mulutnya. Namja manis itu pun menyangga kepalanya diatas tumpukan bantal dan menatap wajah tampan Myungsoo yang mampu memberikan energy baginya.

“Bubur ini untukku?” ucap Sungjong dengan lembut seraya menangkup semangkuk bubur gingseng yang begitu panas.

Myungsoo melirik kearah Sungjong sejenak dalam kesibukannya memakai pakaian, “Ne, aku yang membuatnya sebelum mandi tadi”.

Sungjong pun mencoba bangkit dari tempat tidur dan memandang bayangan dirinya dan Myungsoo di balik cermin besar yang menempel di dinding lemarinya. Ia menyematkan senyumnya lalu menyentuh bahu Myungsoo dengan sentuhan lembutnya.

“Harusnya aku membantumu berpakaian setiap pagi, mianhae,” Sungjong merapikan kerah kemeja putih Myungsoo dan merapikan kemeja itu.

Dengan lengkungan senyumnya, ia pun berbalik dan menghadap Sungjong, “gwenchana aku mulai terbiasa”.

“Ani, itu tugasku hyung,” sesal Sungjong.

Myungsoo meraih pipi namja cantik itu dengan tangan kanannya, di sentuhnya permukaan halus itu dengan jari-jarinya sangat lembut. Perlahan ia pindahkan jari-jarinya kesurai hitam Sungjong, dibelainya rambut hitam itu dengan sangat lembut.

“Makanlah,” ucap Myungsoo lalu mencium lembut kening Sungjong.

Ia tuntun namja cantik itu untuk duduk dipinggiran ranjang, ia ambil mangkuk itu dan ditaruhnya dikedua tangan Sungjong.

“Hyung…” panggil Sungjong lembut ketika hendak mendaratkan bubur itu kedalam mulutnya.

“Ne?” jawanya sambil kembali menoleh kepada Sungjong.

“Bagaimana jika aku mati? Bagaimana jika aku tidak akan sembuh?” tukas Sungjong asal.

Myungsoo membulatkan kedua matanya, lalu berseringai dan terkekeh akan lelucon yang baru saja ia dengar. Ia yakin pendengarannya kini mulai terganggu karena terlalu sering mendengarkan teriakan teman-temannya dikantor.

“Mwoya?” ucap Myungsoo sambil tersenyum kecut.

“Sepertinya aku akan segera mati, apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi?” ucap Sungjong masih santai sambil melahap buburnya.

Myungsoo merundukan tubuhnya, diperhatikannya wajah Sungjong yang kini mulai mengalihkan perhatiannya ke wajah namja bertatapan tajam itu. Dengan wajah polosnya ia lalu menggerakan matanya kekiri dan kekanan ketakutan.

“Aniyoo… lupakan saja. Sudahlah, cepat berangkat kekantor hyung,” ucap Sungjong sambil menarik dasi garis-garis biru yang dipakai Myungsoo.

“Hmm… jaga dirimu. Jika ada apa-apa kau panggil eommamu saja atau berteriaklah,” tutur Myungsoo sambil memainkan rambut Sungjong.

Diciumnya bibir merah bak cherry itu dengan sangat lembut, dengan lumatan yang begitu penuh akan kasih saying. Ditatapnya lagi kedua manik yang begitu bersinar dihadapannya. Ia kembali menarik kedua ujung bibirnya dan mencium bibir Sungjong untuk kedua kalinya.

“Aku berangkat, habiskan buburmu itu,” ucap Myungsoo.

“Hyung… pakaikan ini untukku,” Sungjong memberikan sehelai shall merah pemberian Myungsoo saat tahun kemarin. Dilihatnya leher Sungjong yang makin terlihat urat-urat nadinya. Namja itu semakin kurus padahal baru beberapa bulan saja ia terserang penyakit. Myungsoo menelan salivanya, menahan nafasnya agar titikan air matanya tidak segera tergelincir dari maniknya.

“Selesai, aku berangkat,” Myungsoo mencium kedua pipi Sungjong dan melangkahkan kedua kakinya yang terasa begitu berat.

.

.

.

Dilihatnya rumahnya yang begitu ia rindukan, letaknya masih sama. Tertata dengan begitu rapih persis saat terakhir ia tinggalkan kerumah sakit. Rasanya Myungsoo jarang meninggali rumah ini. Debu-debu menempel tipis dibeberapa perabot dirumah mungil ini. Sungjong pun melangkah dengan sangat perlahan.

“Kau sudah bangun?” ucap eomma saat melihat anak semata wayangnya itu melangkah perlahan menapaki lantai dapur.

Sungjong menjawabnya dengan anggukan pelan dan senyuman. Ia pun menggeser kursi makan yang terbuat dari kayu itu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan gaduh. Diangkatnya kedua tangannya itu dan diletakan diatas meja untuk menyangga wajahnya. Diperhatikannya dengan seksama yeoja cantik yang kini tengah membelakanginya itu.

Betapa sangat rindunya ia kepada orang itu. Berapa tahun sudah ia tidak pernah sedekat ini dengan yeoja yang melahirkannya ini. Ia meninggalkan sebilah senyum sebelum akhirnya ia beranjak dari bangkunya dan memeluk yeoja itu dari belakang.

“Hei, manja sekali? Bukankah kau janji untuk menjadi mandiri eoh?” ucap yeoja itu sambil membalas pelukan anaknya.

“Aku sayang padamu eomma, aku rinduuuu sekali padamu,” tukas Sungjong sambil mencium kedua pipi eommanya yang mulai berkeriput itu.

Dilihatnya wajah eommanya dengan sangat cermat dan baik-baik. Sekali lagi ia tersenyum dan mencium kedua pipi eommanya.

“Sudah-sudah, eomma mau melanjutkan masak. Istirahatlah, kau kan masih harus banyak istirahat,” ucap yeoja itu membelai surai anaknya.

“Aigoo, eomma pelit sekali, baiklah aku akan segera tidur,” Sungjong membalikan langkahnya, namun ia kembali berbalik dan mencium kening eommanya.

.

.

.

“Sungjongie~” ucap seseorang saat ia mulai membuka rumah yang didominasi oleh warna hitam dan putih itu.

Dengan langkahnya yang besar-besar itu, ia susuri ruang tamu dan berangkat kekamarnya dimana Sungjong tengah beristirahat. Ditangkapnya sosok namja cantik yang tengah berbaring tenang diatas ranjangnya. Myungsoo pun menghampiri namja itu. Dengan perlahan dibelai rambut dan wajah itu bergantian.

Ia hanya mampu tersenyum saat rasa sesak mulai memenuhi hatinya dan begitu menyakitkan. Ingin rasanya ia menangis dan memohon kepada Tuhan agar memindahkan segala penyakit Sungjong ketubuhnya.

“Sungjongie, kau tahu? Aku menyempatkan untuk pulang diwaktu makan siang untuk menemuimu Sungjongie,” Myungsoo meninggalkan ciuman lembutnya dikening Sungjong.

“Ugh, hyung kau mengganggu tidurku saja,” dengan kepalanya yang terasa begitu berat Sungjong mulai memaksakan membuka kedua matanya.

Myungsoo terkekeh dan dibantunya Sungjong untuk duduk dan bersender di senderan ranjang. Dilihatnya wajah Sungjong yang terlihat begitu berseri dan bercaya. Terlihat begitu beda dengan hari-hari sebelumnya saat ia berada dirumah sakit. Tampaknya ia lebih memang lebih senang berada dirumah. Mungkin ia akan kembali sehat jika terus berada dirumah.

“Kau terlihat jauh lebih sehat hari ini? Aku akan membantumu makan ne?” Myungsoo berlari berniat mengambil makanan di dapur namun eomma segera menghadang langkahnya dengan senampan makanan dan minuman.

“Aigo, eomma,” sesal Myungsoo.

“Biar eomma yang menyuapi Sungjong siang ini, kau nanti malam saja,” ucap yeoja itu lalu duduk disamping ranjang.

Sungjong hanya tertawa melihat kedua orang itu bertingkah. Ia menggeser tatapannya kearah lain. Dengan samar dilihatnya sebuah bayangan yang terlihat begitu bercahaya. Ia hanya tersenyum dan kembali memutar pandangannya kekedua orang yang ia cintai itu.

“Kalau begitu kalian menyuapi aku bergantian bagaimana?” ucap Sungjong masih dengan suara paraunya.

Myungsoo tertawa merasa puas. Sementara yeoja setengah baya itu melirik kearahnya dengan kesal. Sungjong pun terkekeh melihat tingkah eomma dan nampyeonnya itu.

“Cepat suapi aku, aku sudah lapar,” ucap Sungjong manja.

“Sungjongie… aku harus kembali kekantor, istirahatlah,” Myungsoo mencium kening anaenya.

Sungjong mengangguk pelan, diliriknya lagi cahaya yang begitu silau dipojok kamarnya itu. Ia pun tersenyum manis kearah tersebut. Myungsoo mengerutkan keningnya dan menatap arah yang sama, tidak ada apapun yang mampu menarik perhatiannya.

“Aku berangkat,” Myungsoo mencium lagi bibir cherry itu.

.

.

.

Sungjong membuka maniknya kembali saat telinga telah mendengar jelas suara pintu depan yang begitu berisik tiap ditutup. Ia tatap lagi sinar dipojokan kamarnya itu yang kini mulai menghampirinya. Ia tersenyum manis, lalu memejamkan kedua matanya kembali. Ia memejamkan dengan begitu ringan dan nyaman.

Saat ia rasakan tubuhnya semakin terasa ringan dan tak lagi bersatu dengan raganya. Saat ia lihat jasad namja manis yang tengah tertidur lelap di ranjang yang barusan ia tiduri. Saat ia menatap dirinya mulai memucat dan bibir merah itu mulai membiru. Ia hanya tersenyum menahan tangisnya.

Tak lama kemudian dilihatnya lagi eommanya yang tengah membawakan selimut yang terasa begitu hangat. Dilihatnya yeoja itu tengah tersenyum sambil bersenandung. Namun nyanyian itu kemudian terhenti, saat yeoja itu mulai memperhatikan tubuh anaknya yang Nampak begitu damai dalam tidurnya. Dibelainya wajah Sungjong dengan lembut. Perlahan air matnya mulai membendung di ujung matanya.

Belum sampai hitungan menit tangisnya pun mulai memecah keheningan rumah penuh cinta itu. Dicumnya kening namja cantik itu sangat dalam.

“Kau bahagia nak?” ucapnya dalam isakannya.

Arwahnya hanya mampu menahan tangisnya sambil terus membuang pandangannya kearah lain. Ia tahu pasti ini akan meninggalkan sedih yang teramat sangat bagi kedua orang itu, tidak tapi bagi orang lain yang mencintainya.

“Eomma, apa aku masih berada disini eomma,” ucap Sungjong pilu.

“Halo, Myungsoo-ssi. Sungjongie, cepatlah pulang,” ucap yeoja itu dengan sangat berat.

 

-TBC-

 

I close my eyes 

And dream of you and

I And then I realize 

There’s more to love than only bitterness and lies

 I close my eyes 

I’ll let you go 

I’ll let you fly 

Why do I keep on asking why 

I’ll let you go 

Now that I found 

A way to keep somehow 

More than a broken vow

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 3, 2012 in Fanfiction

 

“Broken Vow” 맹세하다 [MyungJong] Chapter 2 – 3end

Title                : “Broken Vow” 맹세하 [MyungJong] Chapter 2 –  3end 

Cast                : Kim Myung Soo and Lee Sung Jong

Genre             : Angst, fluff

Rate                : PG

Words             :

Author            : Summer

Warning         : Boy x Boy, OOC, Typos, I’m not good author, Please R-C-L

                         Saya ga mau tahu pokoknya kalian harus like dan komen setelah baca

  nih FF

 

Summary :

Vow, janji… dimanapun itu setiap kepercayaan pasti menyuruh umatnya untuk menjalankan atau menepati janji… But, bagaimana dengan sebuah janji yang telah rusak… akankah masih ada kewajiban bagi orang tersebut untuk menuntut janji mereka?

Chapter 1 : https://www.facebook.com/notes/ff-nya-infinite-couple-myungjong/broken-vow-chapter-1/441479275903135

 

.

.

.                         

 

Belum sampai hitungan menit tangisnya pun mulai memecah keheningan rumah penuh cinta itu. Dicumnya kening namja cantik itu sangat dalam.

“Kau bahagia nak?” ucapnya dalam isakannya.

Arwahnya hanya mampu menahan tangisnya sambil terus membuang pandangannya kearah lain. Ia tahu pasti ini akan meninggalkan sedih yang teramat sangat bagi kedua orang itu, tidak tapi bagi orang lain yang mencintainya.

 

“Eomma, apa aku masih berada disini eomma,” ucap Sungjong pilu.

 

“Halo, Myungsoo-ssi. Sungjongie, cepatlah pulang,” ucap yeoja itu dengan sangat berat.

 

***

 

Myungsoo berlari melewati kerumunan di tengah stasiun dengan langkahnya yang terasa semakin kaku. Seluruh tubuhnya bahkan terasa begitu dingin dan begitu sulit untuk dapat bergerak seperti biasanya. Gemetar dan penuh rasa ketakutan, mungkin itulah sebagian rasa dari begitu banyak gundah yang menyelinapinya. Ia tak mengerti kenapa kini air matanya justru mulai mengalir dan mulai membuat sesak nafasnya.

 

Myungsoo terengah menatap keberangkatan kereta menuju rumahnya yang masih sekitar empat puluh lima menit lagi. Tak segan-segan, ia pun berlari menutar langkahnya. Mendapati taksi kosong dan berharap jalanan sore ini tidak macet. Ia terus membuang pandangannya keluar jendela diiringi tangis. Tanpa memperdulikan sang sopir taksi yang terus mengamatinya tak mengerti dari spion depan.

 

Dalam relung hatinya, ia selalu berharap dan berdoa kepada Tuhan, tentang kebohongan atas apa yang ia pikirkan saat ini. Tentang spekulasinya akan kejadian negative yang menimpa Sungjong saat ini. Dan, tangisnya pun terhenti saat taksi itu berhenti disebuah rumah mungil yang kini mulai didatangi beberapa kerabatnya.

 

Ia terdiam, tak mampu berkata-kata saat ia mulai mendorong knop pintu taksi itu. Dengan langkah yang begitu berat, ia melangkah melewati sejumlah kerabatnya yang menepuk bahunya mencoba menguatkan perasaannya. Saat ini, pentingkah baginya untuk menahan tangis?

 

Myungsoo menjatuhkan tubuhnya, menumpukan beban tubuh seluruhnya pada lututnya. Tak pernah lepas pandangannya itu dari sosok namja berwajah pucat yang tengah memejamkan kedua matanya sambil tersenyum. Melihatnya, Myungsoo pun ikut melukis senyumnya. Diraihnya tangan yang sudah mendingin itu, digenggamnya dengan sangat kuat.

 

Dengan suara sedikit mendesah lirih, ia berbisik, “haruskah kau pergi tanpa kehadiranku?”. Perlahan letupan emosi mulai bergemuruh dan memintanya untuk segera mengeluarkannya. Myungsoo pun menangis dengan isakannya yang begitu keras. Ia berteriak, “kau tidak ingat janjiku? Bagaimana dengan waltz Disney? Bagaimana dengan lemon candymu Sungjongie..”

 

Melihat itu, sang eomma segera menarik Myungsoo dengan susah payah. Bahkan Woohyun, Dongwoo dan Sungyeol ikut membantu menarik Myungsoo dan membawa Myungsoo keluar dari ruang kamar itu. Ia tak pernah menyadari bahwa namja cantik itu selalu mengikutinya, selalu berada disisinya dengan perasaan bersalahnya.

 

Arwah namja it uterus memainkan jari-jarinya dengan rasa ketakutan. Ingin rasanya ia menyentuh wajah Myungsoo, menyeka seluruh air mata itu. Namun ia tidak mampu. Ia tidak bisa melakukan itu. ‘Yah, aku tidak mungkin meninggalkannya dengan janji itu. Aku tidak mungkin membuatnya merusak dan mengingkari janji itu,’ tukas Sungjong tanpa terdengar siapa pun.

 

“Sunggyu-hyung, bahkan aku baru membuat janji padanya untuk membawanya ke Waltz Disney. Menagap ia masih pergi meninggalkanku?” ucap Myungsoo dengan tangisnya yang semakin tak dapat dikendalikan. Sunggyu yang melihatnya hanya mampu mengelus punggung Myungsoo untuk terus bersabar.

 

“Lupakanlah, mungkin Sungjong telah melupakannya,” ucap Dongwoo asal. Sungjong yang berada tepat disisi kanan Myungsoo segera berdiri dan menatap Dongwoo kesal dengan kedua tangan yang terlipat dipinggang. “Aku masih mengingatnya dan aku ingat semua apa yang dikatakan oleh Myungsoo-hyung tahu. Tidak sepertimu, wekk…” Sungjong menjulurkan lidahnya.

 

.

.

.

I close my eyes And dream of you and I And then I realize There’s more to love than only bitterness and lies I close my eyes

Josh Groban – Broken Vow

 

 

Dengan cermat Sungjong menatap peti dirinya didalam peti mati, beberapa orang menatap jasadnya dengan tangis tak terkecuali Myungsoo. Bahkan namja itulah yang selalu menangisinya sepanjang hari ini. Myungsoo mengecup lembut kening Sungjong sesaat sebelum peti dari kayu tersebut resmi ditutup. Ia melangkah mundur saat beberapa petugas kremasi datang untuk mengangkat peti Sungjong dan membawanya ketempat kremasi.

 

Sungjong hanya mampu menelan saliva melihat api yang begitu panas yang sebentar lagi akan disandingkan dengan jasadnya. Ia berdiri disamping Myungsoo yang kebetulan kosong. Sesekali ia melirik nampyeonnya yang menatap kosong kejendela kaca pembatas ruang kremasi itu.

 

Lagi-lagi Myungsoo menitikan air matanya, membiarkan matanya yang merah semakin memerah karna tangisnya yang terus menerus. “Psstt… Hyung, sudah, jangan menangis lagi. Aku masih ada disini,” ucap Sungjong berusaha merasakan aroma tubuh Myungsoo yang kini tak mampu lagi ia hirup.

 

“Tunggu, mengapa aku masih disini? Mengapa aku tidak pergi ke alam lain? Kemana cahaya tadi yang menjemputku?” Sungjong berlari dan membuang langkahnya kesegala arah. Tak nampak satu pun petunjuk yang nampaknya dapat membantu dirinya.

 

“Kau menjadi arwah gentayangan juga rupanya?” seorang namja tertawa melihat tingkah Sungjong. Dengan sigap Sungjong pun menoleh kearah tersebut. dilihatnya namja yang tak lebih tinggi darinya dengan wajahnya yang terlihat keren. Wajahnya sama pucat seperti dirinya saat ini.

 

“Siapa kau?” ucap Sungjong ragu. Namja itu kemudian berseringai menatapnya.

 

“Kau tahu mengapa arwahmu masih berada disini? Karena dia masih memiliki janji padamu, karena dia terus menangisi kepergianmu dan membuat dirimu tak bisa meninggalkannya,” ucap Hoya sambil berjalan mendekatinya. Yah, namja itu adalah Hoya. Seperti yang ia katakan, ia juga mengalami hal yang sama dengan Sungjong, bahkan ia telah hampir sebulan menjadi arwah gentayangan karena ia tidak dapat memenuhi janjinya kepada seseorang.

 

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya Sungjong polos dengan wajah serba salahnya. Hoya memutar langkahnya, menatap kerumunan orang yang kini tengah menunggu abu dari hasil kremasi jasad Sungjong. “Buat ia memenuhi janjimu, dan buat dia berhenti menangisi dan meratapi kepergianmu. Setidaknya sampai kau benar-benar pergi meninggalkan bumi. Hanya itu yang kutahu, karena aku belum pernah berhasil,” Hoya melangkah meninggalkan Sungjong dengan langkahnya yang nyaris tak bersentuhan dengan lantai.

 

Sungjong terdiam, mencoba mencermati apa yang dikatakan namja tersebut. ia melangkah setengah berlari saat orang-orang mulai meninggalkan tempat itu. Dan, dirinya kembali terenyuh saat melihat Myungsoo kembali menitikan air mata saat membawa abu. Sungjong menatap Myungsoo dengan ratapan kesedihannya. Ia berjalan semakin pelan hingga ia tertinggal dari barisan tersebut.

 

Myungsoo menoleh kebelakang, menatap kearah Sungjong. Menatap kearah tersebut, namun tak ada yang ia lihat, ia tak mampu melihat Sungjong. Hanya saja ia merasa bahwa Sungjong masih berada disini, ditempat ini. Sungjong kembali mengangkat wajahnya, menatap kedua mata Myungsoo yang sepertinya tengah membidik bayangnya.

 

Dengan senyum yang membilah indah, ia pun berlari menghampiri Myungsoo dan tertawa menghampirinya. Namun, Myungsoo masih menatap kearah tadi dengan tatapan kosongnya. “Hey, apa yang kau lihat? Ayo kita ke pantai,” ujar Dongwoo menarik bahu Myungsoo.

 

Sungjong meniup poninya dengan segala rasa lelahnya. Ia bahkan menjatuhkan tubuhnya kelantai membiarkan Myungsoo, eomma dan teman-temannya mulai meninggalkannya. Yah, saat ini ia memang tidak mampu berpikir apa pun selain Myungsoo. Harusnya ia pergi sebelum Myungsoo sampai dirumah dan menangisinya, pikirnya.

 

Ia melangkah lemah kearah luar, saat matahari yang perlahan mulai menghilang tenggelam bersama senja. Namja manis itu terus melangkah dengan tujuan pasti yaitu rumahnya. Ia tak henti melebarkan pandangannya saat ia melihat beberapa orang yang memiliki wajah begitu pucat sama seperti dirinya. Ia bahkan tersenyum saat orang itu tersenyum padanya.

 

Sungjong menghentikan langkah, saat dilihatnya sebuah rumah toko yang terlihat begitu sepi. Di plang yang dipajang disisi kanan toko tersebut tertulis.’peramal ahli’. Sungjong menelan salivanya. Dengan ragu dan penuh ketakutan, ia pun mulai melangkah mendekati tempat itu.

 

“Berhenti disana,” mendengar ucapan itu Sungjong pun menghentikan langkahnya dengan segera. Wajahnya yang pucat semakin memucat dengan ketakutannya. Ia tak tahu siapa yang mengatakan perkataan itu.

 

“Hawa tubuhmu terasa begitu dingin, sepertinya kau arwah baik. Masuklah,” ucapnya lagi.

 

Atas intruksi tersebut, Sungjong mulai melangkah kembali kedalam. Kesan pertama yang ia dapatkan adalah, tempat ini nampak begitu menyeramkan. Namun, hal itu terpatahkan saat ia melihat wanita separuh baya yang terlihat begitu baik dan jauh dari kata menyeramkan itu.

 

“Kau namja? Mengapa wajahmu begitu cantik?” ucapnya saat melihat wajah Sungjong. Sungjong menoleh kekiri, ke kanan dan ke belakangnya. Lalu ia menujuk dirinya sendiri sambil mengerucutkan bibirnya.

 

“Ne, kau. Kau kira ada siapa lagi selain dirimu?” seraya yeoja itu. Sungjong tertawa lalu duduk tepat dihadapan yeoja itu melihat perlengkapan peramal yang begitu lengkap dan tertata rapih di meja yang pendek. Yeoja itu terus memandangi wajahnya begitu detail.

 

“Kau butuh bantuanku kyeotminam?” ucap yeoja itu lalu memainkan sebuah games di ponselnya. Sungjong tertawa bahkan terbahak-bahak melihat perilaku yeoja itu. Ajumma itu kemudian menghentikan permainannya, menatap Sungjong dengan bidikan matanya yang terlihat menyeramkan. Namun tidak bagi Sungjong karena namja manis itu terus saja tertawa.

 

“Ya, mengapa kau terus menertawakanku?” ucap Sungjong kesal. Sungjong pun terdiam dan menundukan kepalanya. “Aku, aku ingin menyampaikan pesan dan membuat nampyeonku merelai kepergianku,” ucap Sungjong pelan.

 

“Mwo? Nampyeon katamu?” ahjumma itu pun langsung mengurut keningnya yang tidak terasa pening sedikit pun. Sungjong mengangguk dengan semangat dengan wajah polosnya. Ahjumma itu menggaruk kepalanya serba salah, “aku sudah tahu keinginanmu. Baiklah, aku akan menemuinya nanti”.

 

“Kenapa harus nanti? Kenapa tidak sekarang?” keluh Sungjong.

 

“Yaaa~ kenapa kau menawar? Aku akan membuat kau pergi ke waltz disney atau disney land dan membuat dirinya membelikanmu sekarung lemon candy. Itu bukan janjinya?” tanya ahjumma itu, berbalik tanya.

 

“Ah.. ne..” ucap Sungjong. “Mengapa kau bisa tahu?”

 

“Pabbo, aku kan peramal”.

 

“Kalau begitu kapan kau akan membantuku?”

.

.

.

“Cepat sedikit jalannya ahjumma, sebentar lagi waktunya ia berangkat kerja,” ucap Sungjong kembali melangkah mundur saat melihat yeoja setengah baya itu masih berada jauh dibelakang.

 

“Ya~ aku sudah mulai tua. Bersabarlah,” ucap ahjumma itu sambil terus berjalan menapaki jalan menanjak tersebut.

 

Sungjong menghentikan langkahnya, lalu tersenyum pada ajumma itu yang masih belum tiba ditempat ia berdiri sekarang. Sungjong berusaha melompat-lompat naik untuk melihat keadaan didalam rumahnya. Ia lalu tertawa saat melihat ahjumma itu terengah sesampainya. Ahjumma itu hanya mampu tersenyum melihat tingkah Sungjong yang begitu lucu.

“Cepat tekan belnya,”

“ne ne ne…sabar,” ucap ahjumma lagi sambil terus tersenyum. Beberapa kali ahjumma menekan bel tersebut, akhirnya seorang namja tampan keluar dari rumah itu dengan mata sembabnya masih dengan baju piyamanya.

Senyum Sungjong pun perlahan hilang berubah menjadi wajah datarnya, bahkan kesedihannya. Ahjumma melirik kearah namja cantik itu, dapat dipastikan hatinya mulai kembali teriris saat melihat wajah Myungsoo.

Myungsoo menatap datar kearah ahjumma, tanpa ada sedikit pun ekspresi. Hingga beberapa saat kemudian ia sedikit menaikan alis kanannya, “Siapa kau?”. Ahjumma itu melirik sekilas kearah Sungjong, dan Sungjong hanya menaikan bahunya sebagai bentuk ketidak tahuannya.

“Aku.. aku peramal… Aku, aku membawa kabar dari anaemu..”

 

-tbc-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 3, 2012 in Fanfiction

 

Tag: ,

“Broken Vow” [Chapter 1]

Title                : “Broken Vow” 맹세하 [MyungJong] Chapter 1 – 2end 

Cast                : Kim Myung Soo and Lee Sung Jong

Genre              : Angst, fluff

Rate                : PG 

Words             : 2425

Author            : Summer

Warning          : Boy x Boy, OOC, Typos, I’m not good author, Please R-C-L

                         Saya ga mau tahu pokoknya kalian harus like dan komen setelah baca nih FF

 

 

 

Summary :

Vow, janji… dimanapun itu setiap kepercayaan pasti menyuruh umatnya untuk menjalankan atau menepati janji… But, bagaimana dengan sebuah janji yang telah rusak… akankah masih ada kewajiban bagi orang tersebut untuk menuntut janji mereka?

A/N : Hal ini pernah terjadi pada saya. Mungkin juga pada Anda… Dan, ini lebih menyakitkan…

 

.

.

.

“Aku akan mengajakmu ke Waltz Disney dan membelikanmu sekantung atau mungkin sekarung lemon candy, bagaimana?” ucapnya dengan begitu jelas terdengar ditelinga Sungjong, namja berwajah cantik dengan tubuhnya yang begitu langsing.

Namja cantik itu hanya tertawa dengan tangan kanannya yang menutupi sebagian mulutnya. Meski terlihat pucat, namja cantik itu begitu ceria dan tak pernah melepas senyumnya. Ia pun menjatuhkan satu persatu telapak kakinya ke permukaan lantai. Membiarkan keduanya menapaki keramik yang begitu dingin tanpa alas kaki dan berjalan pasti menuju ranjang yang terbuat dari besi dan beralaskan kasur busa berbalut sprei putih.

Ia pun duduk diatas ranjangnya dan memeluk sebuah teddy bear berukuran cukup besar berwarna putih dengan begitu gemas. Diliriknya kembali namja tampan berpandangan tajam yang kini mulai berjalan mendekatinya. Dia adalah Myungsoo, namja chingu dari Sungjong. Mungkin bisa dikatakan Myungsoo adalah suaminya karena satu tahun yang lalu mereka telah mengikrarkan sebuah janji di sebuah gereja di sebuah desa di daerah Mokpo tanpa seorang pun saksi, hanya Tuhan dan malaikatlah yang menyaksikan ketulusan cinta mereka.

Sebuah cincin bertahtahkan berlian yang dibuat oleh keduanya dengan spidol menjadikan sebuah pengikat diantara keduanya yang hanya mampu dilihat oleh mereka. Cinta, bagi mereka kata itu tak cukup hanya dideskripsikan lewat lisan atau pun perbuatan. Karena kata itu harus selalu melekat di sanubari sebagai pengingat bahwa kau telah memilikinya dan kau telah menjadi miliku.

“Eumm, oke. Aku akan kebali sembuh,” jawab Sungjong sambil mengangguk mengiyakan janji yang dibuat oleh pasangannya.

Dengan menatap sepasang manik hitam milik Sungjong, Myungsoo pun meyakinkan jika ia pasti akan menepatinya entah bagaimana pun itu caranya. Memang belum lama ini ia telah diterima disalah satu perusahaan IT terkenal di Korea dengan penghasilan yang bisa dibilang besar. Namun, tagihan rumah sakit dan obat yang harus ditebus untuk Sungjong telah menghabiskan seluruh tabungannya dan membuat dirinya nyaris tak bisa bernafas dan terus berkerja keras.

“Hyung, aku ingin pulang. Bagaimana jika aku dirawat dirumah saja? Aku akan baik-baik saja,” tegas Sungjong tiba-tiba seakan tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Myungsoo.

Myungsoo tertegun, menatap Sungjong dengan intens. Lalu menganggukan kepalanya serta membuang pandangannya untuk menghindari harunya yang berlebihan dan membuatnya menangis.

“Tentu, memang sudah waktunya kau pulang. Bukankah kau sekarang sudah tersadar?” tegas Myungsoo dengan seringai kudanya.

Dengan sangat lembut Sungjong meraih tangan kanan Myungsoo menggenggamnya dengan kuat menyalurkan energi hangat dari dalam tubuhnya. Saat Myungsoo menaikan pandangannya perlahan, dilihatnya senyum Sungjong yang begitu cerah yang selalu saja membuatnya bersemangat dan begitu malu padanya.

“Pulanglah, bukankah besok kau berkerja?”

“Akh, ne. Hahaha… aku pulang ne? Jaga dirimu baik-baik,” tawa Myungsoo terdengar begitu aneh dan dipaksakan.

Sungjong pun mengangkat kedua ujung bibirnya, menyimpulkan sebuah senyum untuk mengiyakan perkataan Myungsoo barusan. Dipejamkan kedua matanya saat namja tampan itu mendaratkan sebuah ciuman lembut dikeningnya. Myungsoo menarik selimut putih yang masih terlipat rapih untuk menutupi sebagian tubuh Sungjong. Dibaringkannya namja itu dengan rapih di ranjang.

“Good night,” tukas Myungsoo mengakhiri pertemuan malam ini.

.

.

.

Otaknya tak lagi berkerja sinkron dengan keinginannya. Meski kedua matanya terus menatap layar komputer dan perkerjaan terus menantinya otaknya tak juga terfokus ada perkerjaannya entah mengapa ia terus memikirkan anaenya Sungjong. Haruskah ia memindahkan Sungjong kerumah dan ia rawat sendirian dirumah. Tidak, seharusnya ia dapat mengajak eomma Sungjong untuk tinggal dirumah dan ikut mengurusnya saat Myungsoo pergi berkerja.

Biar bagaimanapun, ia tidak mungkin berhenti berkerja karena ia masih membutuhkan uang untuk kelangsungan hidup mereka. Ia pun menghentikan jari-jarinya yang sedari tadi bergerak begitu cepat diatas keyboard komputer. Sejenak ia tarik nafas dan membuangnya perlahan. Yah, sepertinya memang itu jalan yang terbaik ia juga akan lebih intens bertemu dengan Sungjong nantinya.

Selepasnya dari kantor, Myungsoo pun bergegas pergi ke rumah sakit. Ia tak langsung pergi ke kamar Sungjong, ia memutuskan untuk bertemu dengan dokter yang menangani Sungjong dan berbicara tentang keinginan Sungjong. Tak usah berlama-lama, akhirnya dokter memberikannya ijin. Ia pun bergegas ke administrasi untuk membayar segala tagihan.

“eomma?” ucap Myungsoo saat melihat yeoja yang melahirkan Sungjong berada didalam kamar kelas dua itu.

“Sungjongie, kau bisa pulang malam ini. Aku sudah mengurusnya, kita hanya perlu berkemas sekarang,” terlihat wajah Myungsoo yang begitu bahagia.

“Jinjjayoo? Aigoo, eomma kau ikut kami kan kerumah?”ucap Sungjong manja.

“Hmm… ne, Myungsoo telah meminta eomma untuk hal itu. Bahkan ia meminta eomma untuk mengurusmu saat ia berkerja,” ucap yeoja itu.

“Myungsoo-hyung menghubungimu? Wahh, daebak,” tawa Sungjong meledek Myungsoo.

Myungsoo memang tidak pernah memiliki keberanian untuk menghubungi keluarga Sungjong karena mereka berdua menikah tanpa restu keluarga mereka. Meski pada akhirnya mereka tetap membutuhkan orang-orang tersebut dalam hidup mereka.

“Yaa~ kau tahu bagaimana cara ia berbicara denganku? Sangat sopan sekali membuatku sedikit merinding,” ucap yeoja Busan itu dengan logatnya yang sangat khas.

“Hahaha… jinjja?” Myungsoo tersenyum melihat keceriaan yang begitu lepas dari namja cantik itu.

“Ya ya ya~ terus saja, aku tidak akan membawamu pulang nanti,” Myungsoo menjitak kepala Sungjong pelan.

“Appo, eomma lihatlah menantumu itu. Dia sangat menyebalkan,” Sungjong memeluk lengan eommanya dan menyembunyikan sebagian wajahnya.

“Lalu mengapa kau menikah dengannya pabbo?” eomma pun melepaskan tangan Sungjong.

“Sudah-sudah, ayo kita pulang…” ucap Myungsoo mengakhiri pertengkaran malam ini.

.

.

.

Semangkuk bubur ayam gingseng berhasil membangunkan Sungjong dari tidurnya. Baunya yang begitu harus dan membangkitkan selera makannya membuatnya tak mampu lagi menutup matanya. Ia tolehkan kepalanya kearah bau harum tersebut. dengan perlahan ia berusaha membangunkan tubuhnya dan senderkan di kepala ranjang.

“Sudah bangun rupanya?” Myungsoo masuk kedalam kamar mungil itu dengan selembar kain handuk yang membalut dari pinggulnya.

Sungjong merentangkan otot-otot tubuhnya, sedikit menguap dengan tangan yang tak lepas menutup mulutnya. Namja manis itu pun menyangga kepalanya diatas tumpukan bantal dan menatap wajah tampan Myungsoo yang mampu memberikan energy baginya.

“Bubur ini untukku?” ucap Sungjong dengan lembut seraya menangkup semangkuk bubur gingseng yang begitu panas.

Myungsoo melirik kearah Sungjong sejenak dalam kesibukannya memakai pakaian, “Ne, aku yang membuatnya sebelum mandi tadi”.

Sungjong pun mencoba bangkit dari tempat tidur dan memandang bayangan dirinya dan Myungsoo di balik cermin besar yang menempel di dinding lemarinya. Ia menyematkan senyumnya lalu menyentuh bahu Myungsoo dengan sentuhan lembutnya.

“Harusnya aku membantumu berpakaian setiap pagi, mianhae,” Sungjong merapikan kerah kemeja putih Myungsoo dan merapikan kemeja itu.

Dengan lengkungan senyumnya, ia pun berbalik dan menghadap Sungjong, “gwenchana aku mulai terbiasa”.

“Ani, itu tugasku hyung,” sesal Sungjong.

Myungsoo meraih pipi namja cantik itu dengan tangan kanannya, di sentuhnya permukaan halus itu dengan jari-jarinya sangat lembut. Perlahan ia pindahkan jari-jarinya kesurai hitam Sungjong, dibelainya rambut hitam itu dengan sangat lembut.

“Makanlah,” ucap Myungsoo lalu mencium lembut kening Sungjong.

Ia tuntun namja cantik itu untuk duduk dipinggiran ranjang, ia ambil mangkuk itu dan ditaruhnya dikedua tangan Sungjong.

“Hyung…” panggil Sungjong lembut ketika hendak mendaratkan bubur itu kedalam mulutnya.

“Ne?” jawanya sambil kembali menoleh kepada Sungjong.

“Bagaimana jika aku mati? Bagaimana jika aku tidak akan sembuh?” tukas Sungjong asal.

Myungsoo membulatkan kedua matanya, lalu berseringai dan terkekeh akan lelucon yang baru saja ia dengar. Ia yakin pendengarannya kini mulai terganggu karena terlalu sering mendengarkan teriakan teman-temannya dikantor.

“Mwoya?” ucap Myungsoo sambil tersenyum kecut.

“Sepertinya aku akan segera mati, apa yang akan kau lakukan jika hal itu terjadi?” ucap Sungjong masih santai sambil melahap buburnya.

Myungsoo merundukan tubuhnya, diperhatikannya wajah Sungjong yang kini mulai mengalihkan perhatiannya ke wajah namja bertatapan tajam itu. Dengan wajah polosnya ia lalu menggerakan matanya kekiri dan kekanan ketakutan.

“Aniyoo… lupakan saja. Sudahlah, cepat berangkat kekantor hyung,” ucap Sungjong sambil menarik dasi garis-garis biru yang dipakai Myungsoo.

“Hmm… jaga dirimu. Jika ada apa-apa kau panggil eommamu saja atau berteriaklah,” tutur Myungsoo sambil memainkan rambut Sungjong.

Diciumnya bibir merah bak cherry itu dengan sangat lembut, dengan lumatan yang begitu penuh akan kasih saying. Ditatapnya lagi kedua manik yang begitu bersinar dihadapannya. Ia kembali menarik kedua ujung bibirnya dan mencium bibir Sungjong untuk kedua kalinya.

“Aku berangkat, habiskan buburmu itu,” ucap Myungsoo.

“Hyung… pakaikan ini untukku,” Sungjong memberikan sehelai shall merah pemberian Myungsoo saat tahun kemarin. Dilihatnya leher Sungjong yang makin terlihat urat-urat nadinya. Namja itu semakin kurus padahal baru beberapa bulan saja ia terserang penyakit. Myungsoo menelan salivanya, menahan nafasnya agar titikan air matanya tidak segera tergelincir dari maniknya.

“Selesai, aku berangkat,” Myungsoo mencium kedua pipi Sungjong dan melangkahkan kedua kakinya yang terasa begitu berat.

.

.

.

Dilihatnya rumahnya yang begitu ia rindukan, letaknya masih sama. Tertata dengan begitu rapih persis saat terakhir ia tinggalkan kerumah sakit. Rasanya Myungsoo jarang meninggali rumah ini. Debu-debu menempel tipis dibeberapa perabot dirumah mungil ini. Sungjong pun melangkah dengan sangat perlahan.

“Kau sudah bangun?” ucap eomma saat melihat anak semata wayangnya itu melangkah perlahan menapaki lantai dapur.

Sungjong menjawabnya dengan anggukan pelan dan senyuman. Ia pun menggeser kursi makan yang terbuat dari kayu itu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan gaduh. Diangkatnya kedua tangannya itu dan diletakan diatas meja untuk menyangga wajahnya. Diperhatikannya dengan seksama yeoja cantik yang kini tengah membelakanginya itu.

Betapa sangat rindunya ia kepada orang itu. Berapa tahun sudah ia tidak pernah sedekat ini dengan yeoja yang melahirkannya ini. Ia meninggalkan sebilah senyum sebelum akhirnya ia beranjak dari bangkunya dan memeluk yeoja itu dari belakang.

“Hei, manja sekali? Bukankah kau janji untuk menjadi mandiri eoh?” ucap yeoja itu sambil membalas pelukan anaknya.

“Aku sayang padamu eomma, aku rinduuuu sekali padamu,” tukas Sungjong sambil mencium kedua pipi eommanya yang mulai berkeriput itu.

Dilihatnya wajah eommanya dengan sangat cermat dan baik-baik. Sekali lagi ia tersenyum dan mencium kedua pipi eommanya.

“Sudah-sudah, eomma mau melanjutkan masak. Istirahatlah, kau kan masih harus banyak istirahat,” ucap yeoja itu membelai surai anaknya.

“Aigoo, eomma pelit sekali, baiklah aku akan segera tidur,” Sungjong membalikan langkahnya, namun ia kembali berbalik dan mencium kening eommanya.

.

.

.

“Sungjongie~” ucap seseorang saat ia mulai membuka rumah yang didominasi oleh warna hitam dan putih itu.

Dengan langkahnya yang besar-besar itu, ia susuri ruang tamu dan berangkat kekamarnya dimana Sungjong tengah beristirahat. Ditangkapnya sosok namja cantik yang tengah berbaring tenang diatas ranjangnya. Myungsoo pun menghampiri namja itu. Dengan perlahan dibelai rambut dan wajah itu bergantian.

Ia hanya mampu tersenyum saat rasa sesak mulai memenuhi hatinya dan begitu menyakitkan. Ingin rasanya ia menangis dan memohon kepada Tuhan agar memindahkan segala penyakit Sungjong ketubuhnya.

“Sungjongie, kau tahu? Aku menyempatkan untuk pulang diwaktu makan siang untuk menemuimu Sungjongie,” Myungsoo meninggalkan ciuman lembutnya dikening Sungjong.

“Ugh, hyung kau mengganggu tidurku saja,” dengan kepalanya yang terasa begitu berat Sungjong mulai memaksakan membuka kedua matanya.

Myungsoo terkekeh dan dibantunya Sungjong untuk duduk dan bersender di senderan ranjang. Dilihatnya wajah Sungjong yang terlihat begitu berseri dan bercaya. Terlihat begitu beda dengan hari-hari sebelumnya saat ia berada dirumah sakit. Tampaknya ia lebih memang lebih senang berada dirumah. Mungkin ia akan kembali sehat jika terus berada dirumah.

“Kau terlihat jauh lebih sehat hari ini? Aku akan membantumu makan ne?” Myungsoo berlari berniat mengambil makanan di dapur namun eomma segera menghadang langkahnya dengan senampan makanan dan minuman.

“Aigo, eomma,” sesal Myungsoo.

“Biar eomma yang menyuapi Sungjong siang ini, kau nanti malam saja,” ucap yeoja itu lalu duduk disamping ranjang.

Sungjong hanya tertawa melihat kedua orang itu bertingkah. Ia menggeser tatapannya kearah lain. Dengan samar dilihatnya sebuah bayangan yang terlihat begitu bercahaya. Ia hanya tersenyum dan kembali memutar pandangannya kekedua orang yang ia cintai itu.

“Kalau begitu kalian menyuapi aku bergantian bagaimana?” ucap Sungjong masih dengan suara paraunya.

Myungsoo tertawa merasa puas. Sementara yeoja setengah baya itu melirik kearahnya dengan kesal. Sungjong pun terkekeh melihat tingkah eomma dan nampyeonnya itu.

“Cepat suapi aku, aku sudah lapar,” ucap Sungjong manja.

“Sungjongie… aku harus kembali kekantor, istirahatlah,” Myungsoo mencium kening anaenya.

Sungjong mengangguk pelan, diliriknya lagi cahaya yang begitu silau dipojok kamarnya itu. Ia pun tersenyum manis kearah tersebut. Myungsoo mengerutkan keningnya dan menatap arah yang sama, tidak ada apapun yang mampu menarik perhatiannya.

“Aku berangkat,” Myungsoo mencium lagi bibir cherry itu.

.

.

.

Sungjong membuka maniknya kembali saat telinga telah mendengar jelas suara pintu depan yang begitu berisik tiap ditutup. Ia tatap lagi sinar dipojokan kamarnya itu yang kini mulai menghampirinya. Ia tersenyum manis, lalu memejamkan kedua matanya kembali. Ia memejamkan dengan begitu ringan dan nyaman.

Saat ia rasakan tubuhnya semakin terasa ringan dan tak lagi bersatu dengan raganya. Saat ia lihat jasad namja manis yang tengah tertidur lelap di ranjang yang barusan ia tiduri. Saat ia menatap dirinya mulai memucat dan bibir merah itu mulai membiru. Ia hanya tersenyum menahan tangisnya.

Tak lama kemudian dilihatnya lagi eommanya yang tengah membawakan selimut yang terasa begitu hangat. Dilihatnya yeoja itu tengah tersenyum sambil bersenandung. Namun nyanyian itu kemudian terhenti, saat yeoja itu mulai memperhatikan tubuh anaknya yang Nampak begitu damai dalam tidurnya. Dibelainya wajah Sungjong dengan lembut. Perlahan air matnya mulai membendung di ujung matanya.

Belum sampai hitungan menit tangisnya pun mulai memecah keheningan rumah penuh cinta itu. Dicumnya kening namja cantik itu sangat dalam.

“Kau bahagia nak?” ucapnya dalam isakannya.

Arwahnya hanya mampu menahan tangisnya sambil terus membuang pandangannya kearah lain. Ia tahu pasti ini akan meninggalkan sedih yang teramat sangat bagi kedua orang itu, tidak tapi bagi orang lain yang mencintainya.

“Eomma, apa aku masih berada disini eomma,” ucap Sungjong pilu.

“Halo, Myungsoo-ssi. Sungjongie, cepatlah pulang,” ucap yeoja itu dengan sangat berat.

 

-TBC-

 

I close my eyes 

And dream of you and

I And then I realize 

There’s more to love than only bitterness and lies

 I close my eyes 

I’ll let you go 

I’ll let you fly 

Why do I keep on asking why 

I’ll let you go 

Now that I found 

A way to keep somehow 

More than a broken vow

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada September 20, 2012 in Fanfiction

 

Tag: , , , , , , ,

“Welcome to My Family”

“Welcome to My Family”

 

Cast :: Myungsoo and Sungjong

 

Rate :: T

 

Genre :: Molla

 

Author :: Summer

 

Warning :: don’t like cast, don’t read

 

 

R (read) C (Comment) and L(Like) arasseo? Hehe ^^

 

 

***

 

 

Kamar itu terlihat begitu sepi. Kemana sepasang suami istri itu? Dimana tawa sang nampyeon dan jenaka sang anae? Sebuah pintu kaca buram di ruangan tersebut terbuka dengan paksa. Seorang namja berwajah manis keluar dengan wajah yang pucat. Mulutnya terbungkam oleh tangan kanannya. Sementara tangan kirinya memegangi perutnya.

 

 

Tak sampai tiga langkah ia keluar ruangan tersebut, kini ia mulai melangkah kembali ke ruangan itu. Kali ini ia membiarkan pintunya terbuka begitu saja.

 

 

“Uekk…Ueeekk…” Secerca makanan dan air liurnya termuntah bersamaan di dalam wastafel.

 

 

Kini namja itu mulai memegangi keningnya yang terasa begitu sakit. Beberapa kali ia merasakan kakinya tak menapak dengan permukaan lantai. Ia melangkah lemah ke dalam kamar setelah beberapa kali berhasil memuntahkan rasa mualnya.

 

 

“Aigooo…” Ia membaringkan tubuhnya segera.

 

 

Matanya terpejam, tangannya tak henti memijat keningnya. Drrrttt…. Drrrttt…. Benda berbentuk persegi slim itu terus membuat gaduh dengan getarannya. Memaksa Sungjong menggerakan tangan kirinya untuk meraba dan mencari benda itu.

 

 

“Yeobosseyeo?” Ucapnya masih dengan sepasang mata yang terpejam.

 

 

“Aigoo… Anae ku ini mulai lupa ingatan dengan nampyeon nya yah?” Terdengar suara khas anime di sebrang sana.

 

 

“Eoh, hyung. Mianhae,” Sungjong memaksa untuk membuka kedua matanya yang terasa begitu berat.

 

 

“Kau sudah makan Jongie?” Tanya namja yang juga nampyeon nya itu.

 

 

“Su.. Ueeekkk…” Dengan cepat namja itu berlari ke ruangan yang di lengkapi bath up, kloset dan wastafel.

 

 

“Jongie~ gwenchana?” Nampak jelas dari suaranya jika Myungsoo benar-benar khawatir terhadap anae nya.

 

 

Namun, benda itu jatuh ke permukaan lantai dan hubungan telepon itu segera terputus.

 

 

***

 

 

(Myungsoo POV)

 

Jongie~ gwenchana? Apa yang terjadi denganmu? Kau sakit? Aigoo… Bagaimana ini? Aku berjalan dengan langkah yang begitu kasar untuk menuju suatu ruangan di ujung sana. Ku hentikan langkahku sesaat dan ku ketuk pintu kayu itu.

 

 

Sesaat kemudian suara seorang namja terdengar dari dalamnya. Ku buka pintu itu segera dan ku lihat seorang namja duduk di sebuah kursi kerja besar dan terlihat begitu seibuk dengan tumpukan kertas permohonan kerja sama.

 

 

“Appa, aku sepertinya tidak bisa ikut rapat,” nada suara dan ekspresiku hampir saja membuat appa terkejut.

 

 

“Waeyo?” Appaku Dongwoo beranjak dari duduknya dan menghampiri aegya nya yang nampak berkeringat dingin ini.

 

 

“Sungjongie, sepertinya terjadi sesuatu padanya,”

 

 

“Kalau begitu cepat kau pulang, biar aku yang urus semuanya,”

 

 

***

 

 

Myungsoo berlari menyusuri perkarangan rumah yang begitu luas dan berhias rerumputan serta pohon-pohon kerdil. Ia menubrukan tubuhnya segera dengan pintu. Menabrak semua barang yang menghalangi langkahnya.

 

 

Matanya tertuju pada kamar yang nampak kosong. Suara aneh dari sudut kamar lainnya memecah konsentrasinya dan membuatnya memutuskan bergegas ke ruangan itu.

 

 

“Jongie,” teriak namja itu ketika Sungjong tengah memuntahkan segala yang tersisa di perutnya.

 

 

Myungsoo menghampiri namja cantik itu dengan segera.

 

 

“Waeyo?” Tangan namja bermata elang itu kini membalikan wajah sang anae dan memandangnya dari segala arah.

 

 

“Mo-la, aku..mual hyung,” ucapnya begitu lemas.

 

 

“Kita kerumah sakit,” Myungsoo menggendong sang anae ala bridal dan membawanya ke mobil.

 

 

***

 

 

Myungsoo tak henti melirik ke dalam ruangan dokter, sangat terlihat kecemasan sang nampyeon tampan itu. Sunggyu, sang eomma Sungjong hanya dapat berusaha menenangkan menantunya. Tak lama kemudian, sang dokter menyuruh Myungsoo untuk masuk ke dalam.

 

 

Entah mengapa yang ia lihat adalah ekspresi bahagia. Padahal, bukankah Sungjong tengah sakit. Dokter menyuruh Myungsoo duduk dan menenangkan dirinya terlebih dahulu. Sedangkan Sungjong hanya terus tersenyum tanpa bicara.

 

 

“Ada apa dengan anae ku, Dok?” Tanya Myungsoo bingung.

 

 

“Selama tuan Kim, Anda akan menjadi seorang appa,” ucap Dokter itu dengan intonasi pas.

 

 

Myungsoo terdiam, terbingung dengan apa yang terjadi.

 

 

“Maksudnya dok?”

 

 

“Sungjong hamil,” tegas dokter itu sekali lagi.

 

 

“Mwo? Aigoo.. Jeongmal?” Myungsoo langsung bergerak ke anaenya, memegangi perut Sungjong yang masih terasa begitu rata.

 

 

“Hmm..” Sungjong mengangguk semangat.

 

 

CHU~

 

 

Myungsoo mencium kening Sungjong lembut, “Gomawo yeobo”.

 

 

***

 

 

Beranjaknya rembulan dari malam, membuat pergantian mentari jadi begitu terik. Sinarnya yang menyengat menembus melalui celah-celah jendela kaca, menusuk-nusuk membangunkan kedua insan yang tidur bersama di sebuah ranjang penuh cinta. (kacau bahasanya)

 

 

“Hyung, bangun. Kau harus bekerja bukan,” Sungjong mulai melepaskan pelukan Myungsoo yang mendekap erat tubuhnya.

 

 

Myungsoo tak juga membuka kedua matanya. Malah namja itu semakin mengeratkan peluknya terhadap anaenya. Sungjong mengerucutkan bibirnya, memandang nampyeonnya kesal. Tiba-tiba rasa mual itu kembali datang menghampirinya.

 

 

“Hyung.. bang-un..uekkk..” Sungjong mencoba menahan muntahannya dan melepaskan tangan Myungsoo dengan cepat dan berlari ke toilet.

 

 

“Jongie…” Myungsoo memaksa membuka kedua matanya yang terlihat segaris.

 

 

Sungjong terus memuntahkan segala isi di perutnya, hingga yang keluar hanya cairan lendir. Tubuhnya menjadi begitu lemah. Sang nampyeon, Kim Myungsoo menggendong namja itu dan membawanya kembali ke ranjang. Menyelimuti namja manis itu lalu memberikannya segelas air hangat.

 

 

“Hyung, ini melelahkan,” resah Sungjong sambil terus memegangi perutnya.

 

 

“Kau lelah karena si jagoan ini heum?” Myungsoo membelai rambut Sungjong yang basah dengan keringat.

 

 

“…” mengangguk lemas lalu memejamkan kedua matanya.

 

 

“Tahan Jongie. Hei.. jagoan appa, kau tidak boleh nakal dengan eomma mu ini, arasseo?” Myungsoo membelai-belai perut Sungjong yang terbungkus piyama, kemudian menciumnya.

 

 

“Hyung..” Sungjong memukul bahu Myungsoo pelan.

 

 

Myungsoo hanya tersenyum lalu mencium bibir ranum Sungjong. Sungjong membalas ciuman Myungsoo dengan sebuah lumatan lembut. Myungsoo membanting tubuhnya ke ranjang dan mengeratkan pelukannnya terhadap anaenya. Menekan kepalanya kian dalam sehingga ciumannya kian agresif.

 

 

“Hyung.. kau pervert,” Sungjong melepaskan ciumannya sesaat sebelum Myungsoo membuka kancing piyamanya.

 

 

“Hahaha.. aku hanya ingin melihat baby kita Jongie,” canda Myungsoo sambil menarik hidung Sungjong.

 

 

Sungjong membiarkan bibir bagian bawahnya lebih maju di banding bibir atasnya. Kemudian tangan nakalnya mencoba memukul pelan tubuh nampyeonnya.

 

 

“Pabbo, mana bisa terlihat. Cepat sana mandi, aku tidak suka mencium bau mu,” keluh Sungjong lalu mendorong Myungsoo kencang.

 

 

“Aigoo.. mengapa tenagamu jadi sebesar ini Jongie. Nampaknya anak kita memang seorang jagoan,” Myungsoo kembali membelai perut Sungjong.

 

 

“Ihh.. sudah sana cepat, atau aku akan dorong lagi yah,” ancam Sungjong.

 

 

“Akhh… ternyata juga galak seperti eomma nya,” Myungsoo mencolek dagu Sungjong.

 

 

“Ya~ Kim Myungsoo, kajja,” Sungjong beranjak dari tempat tidur dan mendorong Myungsoo terus hingga sampai di depan kamar mandi.

 

 

“Hahaha…” tawa Myungsoo begitu senang melihat sang anae kesal.

 

 

***

 

 

(Myungsoo POV)

 

Perutnya kini terlihat mulai membuncit, aku sangat suka melihatnya. Seksi. Haha… otak yadongku selalu berkerja dengan ekstra ketika melihat bajunya tersibak dan memperlihatkan perut itu. Kandungannya baru dua bulan tetapi entah mengapa aku sangat tidak sabar menunggu kelahiran anak itu. Semakin hari Jongie mulai lebih baik, frekuensi mual-mualnya sudah mulai menghilang.

 

 

Namun, keinginannya selalu saja aneh, entah mengapa namja itu jadi seperti ini. Huftt..

 

 

“Hyung, kau sudah tidur?” Sungjong menggoyang-goyangkan tubuhku yang berbaring membelakanginya.

 

 

“Hyung…” ucapnya lagi, kali ini ia mencoba mengintipku dengan mengangkat guling yang menutupi wajahku.

 

 

“Hmmm… apa chagi?” ku raih lehernya dank u biarkan tubuhnya meniban tubuhku.

 

 

“Aku mau bulbogi,” ia tersenyum memperlihatkan gigi bagian depannya yang berjejer rapih.

 

 

“Mwo? Jam berapa sekarang Jongie?” ku raih weaker di meja di sampingku.

 

 

“Jam dua pagi, kau tidak takut gemuk?” ucapku lalu berusaha duduk.

 

 

“Ani, aku mau makan sekarang,” ucapnya sambil menggeleng.

 

 

“Besok sajalah,” aku kembali menarik selimutku.

 

 

“Hyung.. kau mau baby mu ini menangis di dalam perutku hah?” lagi-lagi ia mencoba mengancamku.

 

 

“Ya.. ya.. ya.. baiklah, cium aku dulu,” aku segera memejamkan mataku dan mengerucutkan bibir tipisku.

 

 

CHU~

 

 

Ciumnya sekilas lalu tersenyum, kyeopta.. sangat manis.. neomu..neoumu yepeo.

 

 

“Ayo kita pergi bersama,” Aku segera mengambil jaketku.

 

 

“Pergi? Ani.. Aku mau kau yang buat sendiri hyung,” Sungjong menarik kembali selimutnya.

 

 

“Aku? Tapi aku tidak bisa Jongie,”

 

 

“Aku tidak mau tahu,”

 

 

“Baiklah,”

 

 

***

 

 

Myungsoo beranjak menuju dapur, membuka lemari es yang isinya untunglah lengkap. Tangan lincahnya bergerak memutar scroll mouse, membaca setiap tahapan memasak bulbogi. Namun, ia hal itu tak juga membuatnya mengerti. Tak lama kemudian namja itu mengambil ponselnya di kamar. Sungjong yang masih membuka matanya kian lebar menatapnya bahkan mengikuti langkahnya kemana pun itu.

 

 

Tutt…

 

 

Tutt..

 

 

“Hallo, eomma Gyu,” ucap Myungsoo pada mertuanya yang mungkin tengah terlelap atau mungkin sedang tidur bersama nampyeonnya Woohyun.

 

 

“Hmm.. ada apa Kim Myungsoo?” ucapnya dengan nada khas orang mengantuk.

 

 

“Eomma.. aegya mu minta di buatkan bulbogi. Aku tidak bisa membuatnya, bisakah kau bantu pandu aku?” pintu Myungsoo lalu me-loudspeaker ponselnya.

 

 

“Ohh.. ne,”

 

 

“Eomma… ajarkan yang benar yah. Si Myungsoo ini pabbo eomma, kau harus sabar,” Sungjong menaruh kepalanya di atas meja makan.

 

 

“Hmm..” Myungsoo mulai mengeluarkan bahan-bahan tersebut dari lemari es.

 

 

Dengan sedikit gemetar dan lambat ia mengiris dan memotong bahan-bahan yang di perlukan.mencemplungkannya ke dalam wajan. Dan memasaknya dengan berjauhan dari kompor, karena takut terciprat dan sebagainya. Tak sampai dua jam akhirnya masakan tersebut selesai. Dan, Myungsoo sendiri tidak yakin dengan rasanya, karena ia sendiri tidak berani mencobanya.

 

 

“Horeee… Kamsahamnida eomma,” Myungsoo menutup teleponnya dan menghidangkannya segera.

 

 

Untuk menghilangkan ragunya akhirnya memberanikan diri mencicip masakan tersebut.

 

 

“Yummy..” ucapnya begitu bangga pada dirinya sendiri.

 

 

“Ini Mama (Ratu/ Yang mulia), makananmu sudah si..ap,” ucapnya terputus ketika namja manis itu telah tertidur pulas di bangku meja makan dengan kepala di meja.

 

 

“Dasar namja ini, benar-benar manis dan membuatku gemas,” di ciumnya lembut kening namja itu.

 

 

“Aku akan bawa kau tidur lagi ne, baby.. mianhae jika kau lapar, eomma mu terlihat lelah dan membutuhkan istirahat sepertinya,” ucapnya sambil menggendong anaenya ala bridal style.

 

 

***

 

 

“Hyung….” Pagi-pagi sekali teriakan itu memecah seluruh ruang di rumah tersebut.

 

 

Myungsoo berlari dengan segera menuju asal suara itu, dilihatnya sang anae terduduk di lantai kamar mandi dan cercahan darah mengalir di sekitarnya. Sebongkah air mata membasahi kedua pipinya. Bibirnya terlihat bergetar dan tangannya memukul-mukul lantai kesal.

 

 

“Aigoo.. gwenchana Jongie? Bayiku, apa kau baik-baik saja di dalam sana?” Myungsoo mengangkat tubuh Sungjong dengan cepat dan berlari meninggalkan ruang itu.

 

.

.

.

Namja bermata elang itu terus meremas rambutnya. Keringat dinginnya mulai mengaliri seluk beluk punggungnya.

“Argghhh…”

Teriaknya kali ini dan bangkit dari duduknya. Dua pasang mata memandangnya kaget, dan kini keduanya pun menghampirinya.

“Ini pasti akan baik-baik saja,” tegas Nyonya Nam, sambil menepuk-nepuk bahu Myungsoo.

“Harusnya ini tidak terjadi jika aku cepat bangun eomma,” Myungsoo membalikan tubuhnya mencoba mengintip apa yang terjadi di dalam meski pun ia tahu betul tak akan terlihat apa pun, karena memang tak ada celah tersisa.

“Sudahlah L, yang penting kau harus menjaganya setelah ia kembali sehat,” Hoya memandang aegya nya iba.

Selang setengah jam kemudian seorang dokter datang menemui ketiga orang yang sangat mencintai namja di dalam ruangan bertuliskan UGD itu.

“Selamat Tn. Jang, anae anda sangat kuat. Awalnya ia mengalami sedikit pendarahan, tapi.. Syukurlah masih bisa di selamatkan ketiganya,”

Dan, memang tak seharusnya ia berkata lagi. Karena dengan binaran dari kedua matanya saja sudah cukup mewakilkan bagaimana namja itu bahagia dan bersyukur pada Tuhan.

“Kami boleh menemuinya dok?” Tukas Sunggyu tak sabar menemui aegya nya.

“Sebaiknya nanti saja Ny. Nam, dia masih terlalu lemah,” namja berjubah putih itu pun berlalu.

“Sudah ku duga, anak mu itu memang hebat Gyu,” Hoya menggantungkan senyum bangga kepada besannya.

“Haha..” Sunggyu menahan tawanya, mengenang bagaimana ia mendidik namja cantik itu dengan sangat disiplin dan tegas, bahkan mungkin galak.

***

Myungsoo menenggelamkan tawa bangganya di tengah rasa harunya. Memandang namja yang masih terbaring dengan wajah polos bak malaikat. Ia menyeka kembali air matanya yang sempat jatuh membasahi pergelangan tangan sang anae.

“Hyung…” Ucap seseorang begitu lemah.

“Jongie…” Myungsoo kini benar-benar mengelap air matanya dengan lengan kemejanya.

Sebuah pelangi terbingkai di kedua mata Sungjong yang terus berbinar. Lukisan senyum menambah kesempurnaan wajahnya.

“Gwenchana?” Myungsoo menyeka poni Sungjong yang terlihat menghalingi keningnya yang berkeringat.

“Eumm..” Calon eomma itu mengangguk tentu masih di iringi senyumnya.

“Jongieee…” Lengkingan suara itu hampir saja memecahkan gendang telinga sepasang suami-istri.

“Ya~ Yeol-hyung, apa kau tidak bisa menurunkan sedikit volume suaramu?” Sungjong meletakan kedua jari telunjungnya di telinga.

“Haha… Mianhae, aku terlalu bahagia melihat dongsaeng dan calon keponakan ku ini baik-baik saja,” Sungyeol memegangi perut Sungjong yang tertutupi selimut tebal.

Sungjong ikut tertawa renyah bersama hyung tercintanya, dan tentunya sang nampyeon ikut larut dalam suasana itu.

“Hyung, kau makan saja dulu bersama ajumma. Biar aku dan eomma yang menungguinya,” ucap Sungyeol.

“Eoh, ne.. Tapi, mohon jaga ia baik-baik. Eomma Gyu, aku titip Sungjong padamu sebentar yah,” ucap Myungsoo mengingatkan Sunggyu pada saat Myungsoo menitipkan Sungjong saat kecil dulu.

“Ne.. Kajja..” Tawa Sunggyu menenggelamkan kedua mata sipitnya.

***

(Myungsoo POV)
Ayo Jang Myung Soo, ini baru tahapan awal dari sebuah rumah tangga. Don’t give up, mengapa aku menjadi begitu cengeng. Huft, bagaimana mungkin aku kalah dengan anae ku yang neomu..neomu yepeo itu.

“Kau pasti senang?”

Ucapan itu tiba-tiba menghentikan senyumku yang selalu tersembul dari bibir tipisku.

“Mwoya?” Jeongmal, aku tak tahu eomma ku berkata apa tadi karena otakku selalu melayang ke masa depan.

“Haha… Aku tahu kau pasti memikirkan bagaimana jika kau jadi seorang appa nanti,” eomma tersenyum begitu manis.

Hmm… Kini aku tahu kenapa namja yang bernama Jang Dong Woo itu tergila-gila pada eomma ku ini.

“Ya~ kenapa kau malah tertawa?” Omel Ny. Jang itu.

“Ani.. Akhirnya aku mendapatkan jawaban itu eomma,”

“Jawaban? Jawaban apa?”

“Hahaha… Pikirkan saja eomma ku yang yepeo. Aku selesai, aku ingin menemui anae ku dulu eomma,” ku cium pipi eomma lekat.

***

(Author POV)
“Hyung.. Tidak usah berlebihan, aku bisa berjalan sendiri,” rengek Sungjong berusaha sedikit meronta dari tumpuan kedua tangan Myungsoo yang menggendongnya dan membawa namja itu ke kamar.

“Nampyeon, kau aku iri dengan mereka,” bisik Sunggyu pada Woohyun.

“Aigoo.. Anae, kenapa kau manja lagi heum? Bukankah dulu aku sering melakukan itu padamu?” Woohyun tertawa renyah meledek anae nya sendiri.

“Ya~ kau ini kenapa tidak romantis sih? Coba lihat itu,” menunjuk Dongwoo dan Hoya yang berjalan berampingan dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.

Woohyun masih menahan tawanya dan kini namja itu malah beralih menggandeng lengan si sulung Sung Yeol.

“Kami pulang dulu, ne?” Ucap keluarga besar itu.

“Kamsahamnida,” Myungsoo menundukan tubuhnya.

“Tidak perlu sungkan, kalau ada apa-apa kau bisa telepon aku atau eomma mu,” Sunggyu melirik ke arah Hoya yang juga sedang menatapnya.

“Ne..” Jawab Myungsoo singkat.

“Jaga Jongie baik-baik yah,” pinta Sungyeol yang begitu protect pada dongsaengnya.

“Arasseo,” Myungsoo kembali tersenyum.

“Annyeong..”

***

>
Seorang namja manis menggerakan tangan-tangan lincahnya. Memainkain sebuah gunting di atas sebuah bahan. Membuat suatu pola manis. Dan kini ia meletakan pola itu di atas sebuah mesin jahit listrik.

Sementara di luar jendela besar sana ada seorang namja yang sibuk berkutat dengan kayu, palu, gergaji dan paku. Tangan kreatif nya sangat mahir membentuk benda seperti box. Dan kini tangannya mulai mengoleskan cat sebagai tahap finishing.

“Jongie, apa kau sudah lapar?” Myungsoo kembali melirik anaenya yang masih sibuk di atas tempat tidur.

“Belum hyung, mungkin setelah ini selesai,” tak sedikit pun Sungjong melirik nampyeonnya.

“Baiklah,” Myungsoo kembali memaku kayu-kayu di hadapannya.

Beberapa menit kemudian…

“Hyung, aku sudah selesai,” ucap Sungjong terdengar begitu manis.

“Kajja, aku sudah lapar,” Myungsoo berlari menghampiri Sungjong dan membantu namja cantik itu untuk berjalan.

***

Myungsoo menghabiskan semua makanan Sungjong yang tersisa. Entah mengapa namja itu malah jadi sulit untuk makan semenjak kehamilan tuanya.

“Myungsoo oppa,” panggil seseorang tepat di belakang Sungjong.

“Mwo?” Myungsoo menoleh sedikit dan yeoja itu berjalan menghampiri mejanya.

“Bagaimana kabarmu?” Tiba-tiba saja yeoja itu mencium pipi kanan dan kiri Myungsoo.

Sungjoong yang melihat aksi itu di depan kedua matanya tentu saja geram.

“Ehmm,” dehamnya demikian kencang.

“Ahaha.. Baik. Oyah, Hye Rim..kenalkan ini anae ku. Namanya Jang Sung Jong,” ucap Myung Soo.

“Annyeong..bangapseumnida,” seperti ingin mengintrogasi, yeoja itu melihat Sung Jong secara keseluruhan.

“Ya~ apa yang kau lakukan,” ucap Sung Jong demikian sensitif.

“Jongie..” Myungsoo berusaha memandang anae nya dengan mata lebar.

“Oppa, mengapa kau suka pada yeoja ini? Dadanya terlihat begitu rata, huh..tidak ada seksi-seksinya,” keluh Hye Rim sambil terus memandangi Sungjong.

‘Yeoja bahkan kau tidak menyadari jika dia adalah seorang namja, anae ku memang neomu..neomu yepeo’ benak Myungsoo.

‘Glek.. Hahaha…apa kau bilang? Yeoja? Heii.. Cacing kepanasan, aku ini namja tahu. Kau tidak perhatikan namaku yah? Mana ada nama yeoja Sungjong, pabbo,’ benak Sungjong sambil tertawa.

“Nampyeon, kita pulang saja, ne. Aku sudah kenyang, perutku sakit disini terus,” Sungjong mengelus perut buncitnya itu.

“Kau sedang hamil? Wah.. Chukkae. Btw, aku duluan yah. Bye,”

Sungjong menahan sejenak emosinya hingga yeoja itu benar-benar keluar dari restaurant itu.

“Hyung, nugu?”

“Hye Rim..”

“Aku tahu, tapi dia itu siapa kau?” Ucap Sungjong begitu jenuh.

“Bukan siapa-siapa,”

“Gotjimal..” Sungjong membuang wajahnya.

“Dia pernah menyukai ku semasa aku sekolah di Amerika dulu,” Myungsoo mencium kening Sungjong dan mengajak namja itu bangun.

“Aku tidak mau pulang,”

“Mwo? Bukankah tadi kau yang mengajakku pulang?” Bibir bagian bawah Myungsoo mulai maju.

“Gendong aku,” ucap Sungjong begitu manja.

“Shiroo.. Apa kau tidak malu heum?” Myungsoo melirik ke kanan dan ke kiri, yah..memang tidak terlalu ramai namun nampaknya itu akan menjadi bahan pembicaraan orang disini.

“Ani..” Sungjong menggeleng tanpa rasa dosa. “Atau aku akan marah denganmu,”

“Marah saja,” Myungsoo membuang pandangannya.

“Ya~ ini permintaan baby mu..kau mau dia tidak bahagia,” omel Sungjong.

“Mwoya? Coba aku dengar,” Myungsoo menempelkan telinganya di perut buncit Sungjong.

“Ahaha.. Kata baby ku eomma nya berbohong :p,”

“Ishh..”

Myungsoo tertawa lebar dan segera melingkarkan tangannya di leher dan kaki Sungjong. Sungjong menutup matanya cepat saat Myungsoo benar-benar menggendongnya ala bridal.

***

Seperti hari kerja lainnya, Sung Jong di rumah di temani sang eomma Sunggyu atau hyung nya Sung Yeol. Setelah Myungsoo pulang biasanya keduanya pun kembali ke rumah. Sungjong meraih jas Myungsoo dan melepaskannya dari tubuh Myungsoo.

“Lelah kah?” Ucap Sungjong sambil menarik benda itu.

“Hmm..kisseu me,” pinta Myungsoo manja.

Chu~

Tautan bibir Sungjong terhenti saat melihat noda merah di bagian bahu kemeja nampyeonnya.

“Hyung, noda apa ini,” Sungjong memperhatikan cermat noda lipstik itu.

“…”

“HYUNG, KAU SELINGKUH?” Sungjong berjalan mundur memandang nampyeonnya begitu emosi.

“Ani.. Biar aku jelaskan,”

“Nugu? Cihh..pasti dengan si Hye Rim itu,”

“Ani..”

“Diam..aww…awww..perutku,” Sungjong meremas piyamanya, dan memegangi perut buncitnya penuh rasa sakit.

“Waeyoo? Jongie…”

“Jangan mendekat hyung..”

“Jongie-ahh…”

 

.

.

.

 

“HYUNG, KAU SELINGKUH?” Sungjong berjalan mundur memandang nampyeonnya begitu emosi.

“Ani.. Biar aku jelaskan,”

“Nugu? Cihh..pasti dengan si Hye Rim itu,”

“Ani..”

“Diam..aww…awww..perutku,” Sungjong meremas piyamanya, dan memegangi perut buncitnya penuh rasa sakit.

“Waeyoo? Jongie…”

“Jangan mendekat hyung..”

“Jongie-ahh…”

“Aigoo… Ini lipstik eomma ku. Aku telepon eomma kalau kau tidak percaya,” Myungsoo meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja lampu.

“Awww…” Erang namja cantik itu.

“Gwenchana?” Myungsoo memegangi tubuh ringkuk anae nya.

“Ya~ ini gara-gara kau hyung,”

“Sudah jangan banyak bicara, ayo kita ke rumah sakit,” Myungsoo melingkarkan tangan Sungjong di lehernya.

“Ya~ turunkan aku..” Sungjong berusaha meronta.

“Jongie, jangan bergerak terus nanti kau jatuh,”

“Stooppp… Hyung, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, aku hanya kesal padamu,” Myungsoo melepaskan Sungjong dan menatap anae nya kesal.

“Mwo? Jadi..? Aww.. Itu bohong juga?” Myungsoo membelakan matanya kesal.

“Hmmm.. Mana ponselmu, aku mau telepon Hoya eomma,” Sungjong mengulurkan tangannya meminta benda persegi itu.

Myungsoo meniup keningnya dengan hembusan dari mulutnya yang begitu kencang.

“Hehe…” Sungjong meraih benda itu dan menekan tombol-tombol yang sangat jelas diingatannya.

“Eomma… Apa kau tadi bertemu nae nampyeon?” Ucap Sungjong dengan gaya bicara khas nya.

“Ne.. Waeyo?”

“Aku bisa pegang ucapan eomma kan?” Introgasi Sungjong.

“Haha… Memang ada apa Jongie?” Terdengar tawa renyah Hoya di sebrang sana.

“Apa kau tadi mencium aegya mu yang jelek itu?” Sungjong mempout bibir nya.

“Haha.. Mengapa kau selalu bertanya dan tidak menjawab pertanyaanku?” Keluh Hoya.

“Huftt… Eomma, jawab saja dulu. Nanti pasti aku akan menjawabnya,”

Myungsoo terus tertawa melihat kelakuan anae nya yang begitu menggemaskan.

“Wahh… Apa ini bawaan baby mu? Kalau begitu anakmu. Pasti seorang yeoja,” canda Hoya.

“Eommaa…” Sungjong merasa kesal.

“Ne.. Tentu saja aku menciumnya. Apakah meninggalkan bekas lipstik ku?” Tawa Hoya begitu renyah.

“Eommaaa… Kau membuatku berfikir yang tidak-tidak,”

“Apa maksudmu? Kau kira anakku itu selingkuh? Hahaha… Dia tidak mungkin selingkuh Jongie,” tawa Hoya.

“Ya.. Mungkin saja,” Sungjong menggembungkan pipinya.

“Kau tahu bagaimana ia mencintaimu sejak TK bukan?”

“Ne.. Arasseo eomma.. Bye..”

“Haha.. Bye calon cucuku dan bye Jongie,”

Sungjong memberikan ponsel itu pada Myungsoo dan berjalan enteng kembali ke kamar. Seakan tak berdosa namja cantik itu berusaha melupakan trouble yang ia buat.

“Arghh… Semakin aneh saja tingkah calon eomma itu,” Myungsoo menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.

***

(Myungsoo POV)
Aigoo… Hatiku terus merasa was-was saat kandungannya memasuki bulan ke sembilan ini. Hampir setiap malam kulalui tidur dengan kualitas yang tidak baik. Aku selalu merasa tak nyaman dan takut kalau-kalau sudah tiba waktunya untuk Jongie melahirkan.

“Hyung…” Panggil Jongie yang memejamkan matanya dalam pelukku.

“Hmm..” Ku belai rambut halusnya.

“Rasanya perut ini sudah terlalu berat dan membuatku sesak,” Jongie mendongakan kepalanya, menatapku dengan wajah polosnya kemudian masuk ke dalam selimut.

Ku kecup keningnya pelan dan ku belai perut buncitnya yang begitu timbul di antara selimut. Sejam kemudian ia telah tertidur pulas, bahkan aku dapat mendengar dengkurannya pelan. Dua bulan belakangan ini ia jadi punya kebiasaan mendengkur.

Ku coba pejamkan mataku, membuang segala pemikiran yang membebani otakku. Namun, beberapa saat kemudian namja cantik ini bergerak resah. Keringat membanjiri keningnya.

“Hyung… Akhh… Perutku sakit hyung…”

“Jongie, kau ingin melahirkan? Ayo kita ke rumah sakit,” aku berlari mengambil jaket Sungjong dan memakaikannya lalu menggendong namja itu.

“Tahan Jongie… Bertahanlah, sebentar lagi kita sampai,”

***

[Author POV]
“Myungsoo, bagaimana keadaan Jongie?” Woohyun, Sunggyu dan Sungyeol berlari ke arah Myungsoo yang menunggu cemas kelahiran anak pertamanya.

“Dia di dalam,” Myungsoo menggembungkan pipinya.

“Aigoo… Sebentar lagi aku punya keponakan,” Sungyeol berjingkrak layaknya anak kecil.

“Pabbo, seharusnya kau khawatirkan dongsaengmu dulu,” Sunggyu menjitak kepala Sungyeol.

“Eomma..” Keluh Sungyeol.

Setelah mengikuti proses operasi sesar selama dua jam, akhirnya dokter keluar di ikuti dua suster yang membawa sebuah box bayi. Seorang namja kecil yang memiliki mata indah dan hidung mancung seperti appa nya, memiliki bibir sexi dan kulit putih cerah seperti eommanya, wajahnya sangat lucu.

“Aigoo… Kyeopta,” Sungyeol menggigiti bibirnya sendiri.

Hoya dan Dongwoo yang baru saja datang tak henti tersenyum bahagia melihat cucu pertamanya itu, begitu pula halnya dengan Sunggyu dan Woohyun.

“Kau ingin menggendongnya Tuan Jang Myung Soo?” Ucap suster.

“Apa boleh suster,”

“Ne, tentu saja. Bawa ke eommanya agar ia bahagia melihat aegya nya yang tampan ini,”

***

[Myungsoo POV]
Aigoo.. Jongie, namja kecil kita sangat tampan. Ia terlahir sempurna dengan mengambil segala kebaikan dari kita. Aku menjadi seorang appa mulai hari ini. Sulit di percaya namun tangisan bayi kecil ini membuatku menjatuhkan air mata haru ku.

“Jongie~ ini baby kita. Ia sudah terlahir ke dunia,” ku hantarkan bayi itu ke pelukan Sungjong dengan gemetar.

Rona bahagia memancar sempurna dari wajahnya. Entah mengapa aku merasa ia menjadi jauh lebih cantik dari sekarang. Jauh lebih sempurna. Dan aku bangga memiliki anae hebat sepanjang hidupku.

“Hwaaa… Baby Myungcuu.. Lucu sekali aegya ku ini,” ucapnya menirukan suara anime ku.

“Kau ingin memberi namanya apa?”

“Bagaimana dengan Myung Jong? Kau bisa memanggilnya dengan Myung-Myung,” ucapnya sambil memainkan tangan mungil bayi kami.

“Ahaha.. Sepertinya lucu,” tawa orang tua kami berserta Sungyeol serempak.

‘Welcome to my family, Jang Myung Jong.. Saranghaeyo…’

-END-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2012 in Fanfiction

 

“Wedding Dress”

[MyungJong] “Wedding Dress” // One Shoot 

*FF ini terinspirasi dari video Lelouch x Suzaku* 
Cast :: Kim Myung Soo and Lee Sung Jong 
Other Cast :: member of infinite 
Rate :: M 
Genre :: Romance 
Warning :: terselip NC 
Author :: Summer #org gila# 

Happy reading :p

***

Seorang namja berbalut gaun putih indah berjalan begitu anggun. Rangkaian bunga tersemat di antara kedua tangannya yang saling berkait. Wajahnya manis tertutup sebuah kain transparant yang melukiskan kecantikannya. Dua orang namja yang tak kalah manis darinya berjalan mendampinginya begitu setia.

Sementara itu, dari arah yang berlawanan seorang namja berjalan dengan begitu gagah. Dengan setelan jas putih, serta dasi kupu-kupu. Sebuah senyum terlengkung sempurna di ujung bibir manisnya. Di sampingnya ada tiga namja tampan yang berjalan mengirinya. Sesaat sebelum menghampiri namja manis itu ia menyongsongkan lengannya. Memberikan lengannya sebagai bahan pegangan namja manis itu.

Dan, keduanya pun berjalan berdampingan menyusuri sebuah altar merah yang berhias bunga-bunga mawar putih.

“Kau siap?” Tanya namja tampan itu sambil mengedipkan mata elangnya.

“Ne.. Tn. Kim,” angguknya begitu manis.

Langkah mereka pun terus berlanjut hingga terhenti di sebuah mimbar untuk menyatukan cinta mereka berdua.

“Kau… Kim Myung Soo dan kau… Lee Sung Jong. Bersediakah kalian selalu bersama dalam suka dan duka?” Ucap seorang namja pirang di hadapan mereka.

“Ne..” Jawab Myung Soo mendului.

“Kau..” Ia menatap Sung Jong sang namja cantik itu.

“Ne…” Sung Jong mengiyakannya.

Keduanya tersenyum, saling menatap satu sama lain. Myungsoo meraih kain tipis nan transparant yang menutupi wajah yepeo Sungjong. Perlahan ia angkat kain tersebut dan ia sangkutkan di mahkota kristal yang menghiasi kepala bagian atas Sungjong.

“Saranghaeyo.. Jongie..”

Chu~

Sebuah kisseu singkat nan manis mendarat tepat di tepian bibir chery Sungjong.

“Nado.. Saranghaeyo, hyung,” ucapnya faseh dengan suara lembutnya.

Dengan senyuman yang menggantung lebar, mereka berbalik menatap kelima orang terdekat mereka lalu kembali membelakanginya. Dengan penuh semangat Sungjong melempar rakaian bunga di genggamannya.

“Hwaaa… Aku yang mendapatkannya,” jerit Sunggyu begitu bahagia.

“Huft,” Dongwoo menghela nafasnya panjang.

“Haha.. Bulan depan kita langsungkan pernikahan chagi,” Woo Hyun mencium pipi Sunggyu singkat.

“Mwo? Kalau begitu bulan depan kita kembali berlibur ke Amsterdam, ne?” Sungyeol tersenyum begitu senang.

“Aku tidak mau ikut,” Hoya menggoda Sunggyu dengan ekspresi jutek nya.

“Ya~ apa-apaan kalian ini. Ini pernikahan ku, kenapa kalian malah berdebat,” Myung Soo mengerucutkan bibir tipisnya.

“Kyaa.. Kenapa kau masih disini bodoh? Cepat bawa dongsaeng ku ke hotel,” Sung Yeol mendorong tubuh Myung Soo agar segera membawa dongsaengnya pergi.

“Haha… Ne, Jongie ayo kita pergi dari sini,” Myung Soo pun membopong tubuh mungil Sung Jong ala bridal style.

Di ujung altar merah itu sudah menunggu sebuah mercy putih lengkap dengan bunga dan pita di bagian depan dan belakang mobil tersebut. Yah, penduduk dan masyarakat di kota ini memang sudah sangat terbiasa dengan pernikahan sesama jenis.

***

Myungsoo masih menaklukan anaenya dalam pelukan, sesaat sebelum membuka pintu kamar hotel mereka. Namun, saat sebuah pemandangan menarik tercipta di hadapannya Sung Jong merontak untuk turun dan melompat ke spring bed bertaburan kelopak mawar merah.

“Wow.. Apa kau yang merencanakannya Hyung?” Sungjong memainkan kelopak-kelopak tersebut seperti anak kecil.

Myungsoo melangkah mendekat dan duduk di pinggiran spring bed itu. Memperhatikan dengan baik bentuk, lekuk dan relief kelopak mawar itu.

“Ani.. Ku kira itu kerjaan mereka berlima,” Myungsoo menjatuhkan tubuhnya dan meniup poninya hingga menjadi acak.

Sungjong berlari meja rias yang tak jauh dari hadapannya. Menatap pantulan bayangan dirinya di permukaan benda tersebut. Menatap benda yang terlihat begitu manis menghias rambut pendeknya.

“Huftt… Lelah rasanya memakai mahkota dan kain ini,” Sung Jong membukanya perlahan.

“Ya~ apa yang kau lakukan?” Myung Soo bangkit dari tidurnya dan menahan kedua tangan Sung Jong yang hendak membukanya.

“Hyung, barang ini menyusahkan,” keluh Sung Jong sambil menggembungkan pipinya.

“Shiroo~ kau ini pengantin dan kau masih harus tampil cantik,” Myungsoo menyematkan kembali beberapa jepitan kawat yang telah Sungjong lepaskan tadi.

“Tapi hyung, kita tidak menerima tamu dan kita sudah sampai di kamar,” Sungjong menatap kedua mata elang itu di cermin.

“Tapi aku masih ingin melihatmu seperti ini,” Myungsoo mengangkat bahu Sungjong dan mengajaknya untuk berdiri.

Perlahan ia merapikan tiap lekukan di gaun panjang Sungjong yang begitu indah, keindahannya telah berhasil membuat Sungjong nampak seperti seorang yeoja.

“Lihatlah dirimu, neomu yepeo..” Myungsoo membalikan tubuh Sungjong dan memperlihatkan bayangannya di cermin.

“Gomawo..” Hanya guratan merah padam yang nampak di wajahnya.

“Ne… Tapi lain kali tak akan ku biarkan kau mengucapkan kata-kata itu dengan ekspresi begitu manis seperti tadi,” Myungsoo mengakat tubuh ringan anaenya dan menjatuhkannya di spring bed.

Namja tampan itu pun menyusul. Ia membaringkan tubuhnya tepat di samping namja manis itu. Perlahan ia mulai menyapukan poni Jongie yang agak menusuk mata indahnya. Sebuah senyum terbingkai indah di bibirnya, begitu pun halnya dengan Sungjong yang hanya tersenyum melihat tingkah nampyeonnya.

“Aku nyaris tak percaya jika hari ini kita sudah menikah,” Myungsoo mengelus pipi kanan Sungjong yang begitu halus.

“Ah.. Ne. Aku juga begitu hyung, bahkan aku tak pernah menyangka jika hari ini aku memakai gaun pernikahan,” Sungjong melirik kebawah, dimana sebuah gaun manis membalut tubuhnya.

“Ahh.. Ne,” Myungsoo menarik bagian atas gaun itu yang berhasil mempertontonkan sebagian dada Sungjong yang memang rata, karena ia seorang namja.

“Eoh..” Sungjong menarik kembali bagian tersebut dan bahkan ia mengambil sebuah bantal untuk menutupinya.

Myungsoo mengeluarkan smirk nya lalu kembali membelai rambut Sungjong lembut.

“Hyung, apa kau sudah lelah? Aku lelah hyung,” Sungjong pun menguap.

“Ani.. Aku masih ingin membelaimu dan menatapmu hari ini,” sebuah kisseu manis mendarat di kelopak mata Sungjong.

“Hyung, apakah kau ingin memiliki anak?” Sungjong memegangi perutnya yang kempis itu.

“Haha… Karena kau tidak mungkin mengandung, maka aku tidak menginginkannya,”

Chu~

Myungsoo mendaratkan ciumannya di pangkal hidung Sungjong.

“Jika kemungkinan itu terjadi bagaimana?” Sungjong memiringkan tubuhnya dan berbaring menghadap Myungsoo, sehingga wajah mereka saling berhadapan.

“Ani.. Aku tidak mau. Aku ingin menikmati waktu hanya berdua denganmu,” gombal Myungsoo diiringi kisseunya yang mendarat di ujung bibir Sungjong.

“Hyung, kau nakal..” Sungjong membalikan tubuhnya.

“Haha… Aku ini nampyeon mu Jongie,” Myungsoo memeluk gemas tubuh namja itu dari belakang dan menaruh dagunya di bahu kanan Sungjong.

“Ya~ sombong sekali kau ini hyung. Baru jadi nampyeon seorang Lee Sung Jong,” Omel Sung Jong tak karuan.

“Psstt… Kim Sung Jong, namamu sekarang Kim Sung Jong, ara?” Myungsoo makin mengeratkan pelukannya.

“Akhh… Lepaskan hyung, uhukk…aku tak mampu bernafas,” Sungjong terus meronta dan melepaskan jeratan Myungsoo.

Brukkk…

Tubuhnya tersungkur begitu saja di lantai. Gaun panjangnya hampir menutup seluruh wajahnya, bahkan kaki mulusnya tak lagi tertutupi rok itu.

“Gwen..cha… Ahahaha,” Myungsoo tertawa geli, bahkan terbahak-bahak.

“Ya~ bantu aku, kenapa kau malah menertawakanku?” Lagi-lagi namja itu berteriak dengan suaranya yang persis namja.

“Bagaimana aku tidak tertawa melihat pakaian dalammu itu Jongie,”

Sungjong menyibak kain besar yang menutupi wajahnya dan berusaha bangun kembali. Kedua pipinya memerah, bahkan seluruh wajahnya.

“Dari mana kau dapatkan lingerie itu?” Myungsoo kembali terbahak-bahak.

“Itu.. Itu.. Itu ku dapatkan dari Sung Yeol-hyung. Dia bilang aku harus seksi di depanmu malam ini,” Sungjong menundukan wajahnya, terduduk lemas di atas spring bed itu.

“Ya~ mengapa menangis?” Myungsoo menyeka air mata Sungjong.

“Hikss…aku ini kurus kan? Aku tidak seksi kan hyung? Makanya kau tidak ingin menyetubuhi ku dan ingin segera tidur,” Sungjong meremas-remas gaunnya.

“Psstttt…apa aku memerlukan keseksianmu untuk cinta? Aku memerlukan hatimu untuk memulai itu semua Jongie. Dan, aku memiliki itu,” Myungsoo meletakan kedua tangannya di wajah Sungjong dan mulai melumat bibirnya.

*dan…tentu saja acara berikutnya adalah….ke-favoritan para yadongers…NC part*

#unskip#

#unskip#

Warning : horny? Jangan salahkan saya, ne?

***

“Psstttt…apa aku memerlukan keseksianmu untuk bercinta? Aku hanya memerlukan hatimu untuk memulai itu semua Jongie. Dan, aku memiliki itu,” Myungsoo meletakan kedua tangannya di wajah Sungjong dan mulai melumat bibirnya dengan sangat lembut dan perlahan.

“Hyung, rambutku tersangkut,” Sungjong memegangi rambutnya. Yang tertarik benda berkilauan itu.

“Mwoya,” Myungsoo bangkit dari ringkukannya dan membantu namja cantik itu melepaskan belasan kawat yang terkait di rambutnya.

“Awww… Pelan-pelan hyung, sakit,” Sungjong memegangi kepalanya.

“Mian, aku tidak bisa merasakannya,jadi aku asal, haha” dengan sangat hati-hati Myungsoo melepaskan mahkota itu dan mengangkat kain transparan yang menutupi wajah Sungjong.

Sungjong menghela nafasnya panjang, menggaruk-garuk kepalanya yang sudah terasa bebas. Sementara mata nakal Myungsoo terus menatap ekspresi polos Sungjong.

“Apa sudah lega?” Myungsoo mengangkat dagu Sungjong, sehingga wajahnya kini menatap ke sang nampyeon.

“Ne.. Gomawo hyung,”

“Apa seperti itu cara berterima kasihmu pada nampyeonmu?” Myungsoo mengerucutkan bibirnya memberikan sinyal.

“Lalu?” Sungjong membulatkan mata dan bibirnya.

“Kisseu,” Myungsoo memainkan bibirnya maju dan mundur.

“Aigoo…hyung, kau kekanakan,” Sungjong membenarkan gaunnya dan berbaring rapi.

“Kau tidak mau? Baiklah,” Myungsoo bergerak gaduh dan berbaring menindih tubuh Sungjong.

“Apa kau rela aku kekanakan dengan orang lain, heum?” Myungsoo membulatkan matanya menatap mata Sungjong dengan mata elangnya.

“Ya~ kau minta dibunuh hyung?” Sungjong menjitak kepala Myungsoo yang sangat dekat dengannya.

“Ne, kill me with your love Jongie,” Myungsoo menekan bibirnya di ujung bibir Sungjong.

Tautan bibirnya menyatu, bergerak seirama alunan dentingan waktu. Tangan Sungjong melingkar di leher jenjang Myungsoo sedangkan tangan Myungsoo terus memegangi kedua pipi Sungjong menekan tautannya agar semakin mendalam.

“Tell me Jongie, why you look so naugthy,” Myungsoo menggigit pelan ujung bibirnya.

“Ya~” jerit Sungjong ketika Myungsoo melepaskan tautannya.

“Sakitkah? Gotjimal,” Myungsoo menekan kembali bibirnya.

Membasahi seluruh permukaan bibir anae nya dengan liur. Menjulurkan sedikit lidahnya, menjejali rongga tersebut agar mampu membuat lidah Sungjong keluar. Dan, menarik lidah itu masuk ke dalam rongga mulutnya.

“Emphh..” Suara itu terdengar begitu terjepit.

Myungsoo melepaskan lidah Sungjong yang sudah terlalu lelah bergulat dengan lidahnya. Membelai rambut Sungjong dengan sangat lembut. Memperlakukan anae nya dengan slowly dan hati-hati.

“Ini untuk dahi mu,” chu~ Myungsoo mencium begitu lembut dahi Sungjong lalu melepasnya dan kembali menatap wajah anae nya yang memerah.

“Ini untuk mata indahmu,” chu~ Myungsoo mencium kedua kelopak mata Sungjong bergantian.

Chu~ lalu melekatkan kembali ciumannya di bibir anaenya. Menekan bibirnya agar ciuman mereka semakin dalam.

“Make me fire baby,” Sungjong menekan kepala Myungsoo.

Myungsoo melepaskan tautannya dan bergerak ke daun telinga Sungjong. Menjilati indra pendengar itu dengan rakus dan membuat desahan manis dari mulut Sungjong.

“Akhh..hyung..eumph..te-rus, hyung,” ucap Sungjong sambil mengelijat.

“Do you like it, Jongie?” Myungsoo mulai menggila dan memperlakukan Sungjong dengan liar.

Perlahan gigitan dan jilatannya bergerak menuruni lekukan wajah dan leher jenjang Sungjong. Ia menghentikan gerakannya sejenak, sibuk mengatur desah nafasnya yang begitu menderu melihat cheest Sungjong yang ter-blow up.

“Tarik gaunmu honey, kita selesaikan dulu foreplay nya,” Myungsoo mencium bibir Sungjong lagi lembut.

Lelah memperlakukan tubuh bagian atas Sungjong dengan manis, kini Myungsoo mulai tertarik dengan bagian yang sedari tadi terblow up karena gaun yang di pakai Sungjong itu kebesaran.

“I’m so thirsty, baby,” Myungsoo menatap Sungjong dengan tatapan horny-nya membuat namja cantik itu tak mengerti.

“Mwoya?”

Myungsoo tak menjawabnya dengan perkataan melainkan dengan sebuah kecupan basah di bibir cherry-nya. Mata nakalnya mulai memandangi dada putih Sungjong dan membelainya dengan jari-jarinya begitu lembut. Memainkan telunjuknya tepat di sekitar nipple Sungjong dan berhasil membuat anae nya resah kegelian.

“Akhh..hyung..” Desahnya.

Myungsoo tertawa dan mencium lagi bibir Sungjong sambil terus memainkan jari-jarinya di tempat itu dan naik ke puncak nipplenya, menarik dan menekan organ tersebut hingga Sungjong menjambak-jambak rambutnya. Myungsoo melepaskan tautan bibirnya, membiarkan bibir dan lidahnya menjelajah di leher dan dada Sungjong.

“Eumphhh…hyung, you’re fuck man,” jerit Sungjong saat nampyeonnya itu memainkan nipple pink Sungjong dengan lidahnya.

“Do you like it baby?” Myungsoo menarik nipple itu gemas, dan tentu hal itu di iringi jeritan erotis Sungjong.

Myungsoo tahu tanpa Sungjong menjawabnya, libido menuntunya untuk segera menarik gaun besar itu dari tubuh Sungjong.

“Aigoo.. You look like cat women Jongie,” ucap Myungsoo saat melihat pants lucu yang di kenakan Sungjong, persis di film Tokyo Miew Miew.

Myungsoo tak juga melepaskan senyuman nakalnya memandang anae nya yang toples dan mengenakan lingerie itu. Entah, setan apa yang merasuki Myungsoo sehingga namja itu mengambil gunting dan mengarahkannya ke arah pants Sungjong.

“Hyung~ apa yang ingin kau lakukan?” Jerit Sungjong lalu menutup matanya takut.

“Aku ingin pants ini tetap melekat di tubuhmu, mianhae,” Myungsoo pun menggunting pants itu tepat di bagian organ tubuh Sungjong yang bulgae.

Dan, sebuah benda menegak berdiri sempurna setelah berhasil menerobos lubang pants tersebut. Tangan cerdiknya bergerak cepat meraih junior Sungjong. Mencengkramnya begitu kuat dan menggerakan tangannya begitu cepat, ke atas dan ke bawah. Sementara Sungjong sibuk mendesah dan menjerit bahkan mengelijat.

“Akhh…hyung..akhh…please..don’t stop it,” desahnya.

Myungsoo mengeluarkan lidahnya dan menjilati seluruh bagian benda tersebut. Namun, beberapa detik kemudian ia mengubah posisinya, melepas resleting celana begie nya dan mengeluarkan juniornya. Memaksa benda yang jauh lebih besar dari milik Jongie itu ke dalam mulut anae nya.

“Hisap Jongie,” pintanya dengan suara mendesah.

“Eumpphh..” Rasa mual menyertainya karena Myungsoo terus menggerakan pinggulnya sehingga benda tersebut terus bergerak maju mundur di rongga mulutnya.

Myungsoo menggerakan pinggulnya lebih cepat, namun kemudian menjadi jauh lebih slow. Lelahkah? Ani, dia hanya ingin benar-benar merasakan detik-detik first night mereka. Ia melepaskan juniornya dari rongga mulut Sungjong perlahan. Di lihatnya namja itu tengah terengah. Bibir manisnya mengecup lembut bibir Sungjong dan membasahinya dengan liurnya.

“Tahan ini ne? Akan sedikit sakit,” Myungsoo meminta Sungjong agar berbalik.

Ia membasahi jari-jarinya dengan liur, dan mulai menekan telunjuknya untuk menjelajahi paradise hole Sungjong.

“Aww… Sakit hyung,” Sungjong merintih kesakitan.

“Sarangahaeyo Jongie,” ia memasukan jari tengahnya, bahkan kini jari manisnya.

Sungjong mencengkram sprei sangat kuat, buliran air mata menetes di pelupuk matanya. Dan, Myungsoo pun melepaskan ketiga jarinya dari hole tersebut.

“Mianhae, saranghaeyo jongie,” ia membina juniornya.

Sulit, sangat sulit rasanya walaupun hanya sebatas head of junior nya saja yang masuk. Ia terus mengguncang-guncangkan pinggulnya. Menusuk-nusuk juniornya ke dalam hole tersebut, yang terus gagal karena size yang extra large nya itu.

“Baby,” Myungsoo memasukan kembali jari-jarinya, menggerak-gerakannya agar lebih mudah.

Dan, mencoba mendorong juniornya lagi. Usahanya pun tak sia-sia.

“Akhh.. Jongie, it’s like in paradise,” Myungsoo mulai merasakan juniornya terhisap oleh denyutan hole itu.

“Eumm..fuck..again..again..hyung,” desahnya lagi.

Myungsoo terus menggoyangkan pinggulnya sehingga juniornya kini berhasil terpendam di seluruh hole Jongie. Lima belas menit kemudian namja itu terjatuh dan memeluk tubuh Sungjong dari belakang.

“I’m climaks,Jongie..”

Crottt…

Juniornya pun memuntahkan seluruh cairan putih hasil horny nya itu. Sebagiannya bahkan tak mampu tertampung di hole Sungjong dan menetes di permukaan sprei.

“Do you wanna to try again? Do you like it?” Ucap Myungsoo tanpa mengeluarkan juniornya dari hole itu.

“Hmm..” Sungjong mengangguk pelan.

Chu~

Sebuah ciuman panjang menjadi awal untuk ronde dua mereka.

-END-

RCL ne.. ^^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2012 in Fanfiction

 

Tag: , , , , ,

[RE-Post] “Just Like A Movie”

[MyungJong] “Just Like A Movie” 

Cast :: Kim Myung Soo and Lee Sung Jong 
Genre :: Molla 
Rate :: T, PG 
Author :: Summer 
Warning :: please listen 2PM – Just Like A Movie, OOC, Typos

*Happy reading~

Hembusan angin timur sesekali membuat poninya berterbangan perhelai. Kedua mata elangnya meneduh, memandang hamparan laut yang tak bertepi. Tak ada kata apa pun yang dapat ia keluarkan dari mulutnya untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Bahkan, ia pun tak tahu bagaimana ekspresinya saat ini. Mungkin terlalu flat dan tak menggairahkan.

#Dashin nugul saranghaji anheul geol ara
Cause I don’t wanna let you go
Nae gieok sogeseo
Naega boneun yeonghwa sogeui juingong cheoreom
Nal saranghadeon geu ttaero dorawa jweo
Amudo moreuge, dashi nae gyeoteuro

Seandainya kehidupan itu seperti sebuah script di film, atau seimajinatif movie. Yah, tentu hidup pun memiliki script yang di pegang oleh Tuhan. Menjadikan setiap naskahnya sebagai takdir dan sesekali tersemat kebetulan.

Namja bermata elang itu kembali menunduk menatap batu-batu karang yang berserakan namun terlihat demikian indah. Sesekali nampak linangan air mata yang belum juga ia luapkan. Rasa sesak terus menyeruak di rongga-rongga hatinya. Membuat dirinya mulai sulit bernafas, dan menghembuskan satu nama.

Tak ada yang lebih berharga baginya saat ini selain mampu mengulang waktu atau setidaknya ia dapat melupakan kejadian beberapa jam yang lalu. Bahkan, nyawa pun tak lagi berharga baginya.

“Pabbo~” lirihnya.

“PABBO~YAAA” teriaknya memecah desiran ombak yang semakin menaik ke daratan.

Hoshhh….

Hoshhh….

Ia mengatur nafasnya kembali, mencoba mengendalikan emosinya yang sudah di ambang batas. Dan, mencoba bangkit dari keterpurukannya. Mencoba akan imajinasinya bahwa “life like a movie”. Meraih kunci motor besarnya yang tergeletak di pinggiran dinding pantai.

“L, kau tidak sepengecut itu. Aku tau kau BAJINGAN TAPI KAU BUKAN PENGECUT…!!!” Ucapnya dengan nada yang semakin meninggi di akhir kalimat.

Namja itu memasukan kunci, memainkan kembali kopling dan gas nya gar motor besar itu melaju dengan cepat.

****

Ia menghapus lagi air matanya. Menghabiskan ice creamnya dengan begitu rakus. Tak perduli bagaimana penuhnya mulutnya saat ini, ia terus menjejali mulutnya tersebut dengan makanan dingin itu. Beberapa pasang mata namja memandanginya, bukan karena tingkahnya saja. Tapi, sungguh sangat menyayangkan melihat seorang namja cantik duduk di pojokan Baskin Robins dengan wajah yang penuh linangan air mata dan peperan ice cream membelepoti sekeliling mulut dan pipinya.

“Katanya ice cream dan coklat bisa buat orang bahagia? Mana buktinya?” Isaknya lagi lalu kembali menjejali mulutnya dengan ice cream.

Bahkan ia kini tak perduli lagi akan menjadi seperti apa tubuhnya setelah hari ini. Baginya tubuh indahnya tak akan menjadi indah lagi jika orang yang menginginkannya tak lagi disisinya. Hiks…hiks…sesekali ia terseguk dan terisak begitu dalam.

“Hyung…kau tega..kau tega hyung…” Ucapnya lagi.

Hingga dua jam ia berada di tempat itu belum ada satu pun orang yang berani mendekatinya. Ia terlalu ganas di saat situasi seperti ini, dan lebih ganas dari seekor singa yang baru melahirkan.

Drtttt….

Drtttt….

“Ya~ nugu? Nugu ya?” Ucapnya begitu solot saat mengangkat sebuah call di ponselnya.

“Kau dimana?” Parau suara di sebrang sana.

“Cihh…bajingan. Untuk apa kau menanyakanku, heum? Masih perdulikah? Aku mau bunuh diri sebentar lagi. Dan kau jangan datang ke pemakamanku,” Sungjong menekan virtual merah dan menon-aktif kan ponselnya.

Ia mengedarkan pandangannya ke beberapa pasang mata yang memandangnya. Lalu memukul permukaan meja sebagai gertakan. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakannya di meja. Melangkah dengan kasar.

Sempat ia dengar dengan baik bisikan beberapa orang disana.

“Dia mau bunuh diri, siapa yang berani membuatnya seperti itu” atau

“Ya~seharusnya kita ikuti dia, agar ia membatalkan usahanya”.

Sungjong membalikan tubuhnya cepat dan memandang tajam orang yang berbicara tadi kemudian meninggalkan tempat tersebut.

****

[Myungsoo POV]

Aku tahu dimana dia, aku tahu dimana orang itu berada sekarang. Dan…itu, bukankah itu dia? Dia yang berjalan begitu cepat meninggalkan toko ice cream kesukaannya.

****

Cittttt…..

L memberhentikan motornya tepat di depan Sungjong. Sontak namja manis itu pun menghentikan langkahnya. Memandang angkuh namja berhelm di hadapannya, lalu berlalu dari sisi lainnya. L memarkir motornya sembarang, dan mengejar namja cantik yang semakin mempercepat langkahnya.

“Jongieeee~” teriaknya dengan suara khas anime.

Dengan segala usahanya, akhirnya ia mampu meraih lengan Sungjong. Menatap namja manis itu dengan tatapan killernya. Tak sempat mengatur nafasnya lagi yang terengah.

“Mianhae~” L mengatakan kata-kata itu begitu lugas.

Plakkk~

Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi L, meninggalkan sebuah berkas merah.

“Semudah itukah bagimu meminta maaf Kim Myung Soo?”

Sungjong membuang pandangannya mengelap air mata yang masih tersisa di wajahnya. Mengatur nafasnya yang begitu sesak. Mencoba tegar agar suara yang ia keluarkan tak bergetar.

“Jongieee~” ucapnya penuh rasa bersalah.

“Pergi kau, bukankah teman-temanmu itu jauh lebih berharga di bandingkan aku sehingga kau bilang di hadapan mereka aku ini bukan siapa-siapamu? Kau malu memiliki pacar seorang namja? Apa kau hanya ingin mempermainkanku saja,” dan kata-kata tersebut keluar begitu lancar dari mulutnya tanpa terbata-bata.

“Pssttt…Jongie~”

“Mwoya? Eoh, aku lupa kalau kau malu memiliki hubungan dengan-ku,” mengecilkan volumenya di bagian akhir.

“Ani~” Myungsoo berusaha meraih pundak Sungjong, namun namja cantik itu segera melepaskannya.

“Lalu? Apa? Oia, Kim Myung Soo,” ia menarik nafanya sejenak. “Bukankah aku sudah memutuskan hubungan kita tadi? Kau lupa eum? Eohh..aku yang lupa, kau kan tidak menganggapku pacarmu ne?”

“Oppsss..mian~ aku keceplosan,” Sungjong memegangi mulutnya.

Myungsoo mengepalkan kedua tangannya geram. Apakah ini dirasa cukup untuk membalas perlakuannya tadi siang?

“Apakah itu cukup memuaskanmu Jongie?” Ucapnya mencoba menahan segala emosinya.

“Ani~ aku jauh lebih memalukan darimu Kim Myung Soo,” Sungjong pun berlalu dari hadapan Myung Soo.

“Jongieeee…” Myungsoo kembali mengejar Sungjong namun ia tak juga memperdulikannya.

***

Myungsoo lari ketengah jalan yang masih cukup ramai di penuhi masyarakat yang lalu lalang.

“Kalian dengar semuanya…aku mencintai Lee Sung Jong…dia seorang namja ter-yepeo yang pernah kutemui..” Teriaknya dari tengah jalan itu.

Namun, nampaknya usaha awal Myungsoo itu gagal total. Karena Sungjong masih saja tetap berjalan tanpa memperdulikan yang dilakukan Myungsoo. Lalu dengan cepat Myungsoo berlari mengambil sebuah mic yang tengah di pegang oleh seorang MC di pinggir jalan.

“Ya~Kau namja yang memakai jaket hoddie bear warna putih. Kau yang bernama Lee Sung Jong, aku mencintaimu…” Teriaknya dengan menggunakan mic.

Kali ini semua mata benar-benar tertuju pada Sung Jong dan juga Myung Soo yang mengatur nafasnya. Sementara namja cantik itu kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berusaha mengintip apakah orang-orang masih melihatnya. Myung Soo melepaskan dan mengembalikan mic tersebut kepada sang MC, dan berlari ke Sung Jong yang terdiam membeku dengan tangan yang menutupi wajah.

“Bukankah aku sudah mengakui cintaku? Tidakkah aku mengakuimu sekarang?” Myung Soo melepas scraff-nya.

Menyelimuti benda rajut itu untuk menutupi wajah Sung Jong. Dengan segenap ketulusannya ia membina Sung Jong untuk kembali ke motornya. Sementara Sung Jong hanya mampu terdiam tanpa niat keluar dari lilitan kain tersebut.

****

Myung Soo menghentikan motor balapnya di tempat dimana ia menangisi perlakuannya sendiri. Namun, tempat ini tak lagi hening. Karena deburan ombak yang menerpa dinding pembatas membuat riuh di keheningan malam tersebut.

“Kenapa berhenti disini? Bawa aku pulang,” Sung Jong memukul punggung Myung Soo pelan.

“Turunlah,”

“Shiro~”

“Jongieee~”

“Shiroo~”

“Ku mohon,”

“Ahhh…ne..ne…ne,” Sung Jong menapakan kaki kanannya lalu di ikuti kaki kirinya.

Ia duduk di dinding pembatas antara jalanan dan bibir pantai. Menghirup sejenak pergantian udara malam di sekitarnya. Myung Soo menyusul duduk di sampingnya, menatap teduh kedua mata Sung Jong yang tertutup.

“Dwegama bwado,dashi bogo tto bwado,” (jika saat aku kembali padamu, aku akan melihatmu lagi dan lagi)

“Mwo? Kau bilang apa tadi?” Sung Jong menolehkan kepalanya sehingga kedua bola matanya bertemu dengan sepasang mata elang L.

“Aku hanya ingin melihatmu lagi, dan lagi. Aku tak mau kehilanganmu lagi Jongie,” L menatap wajah polos Jongie yang menatapnya tak mengerti.

Dengan lembut ia memegang kedua pipi Sungjong, mendekatkan wajahnya, lalu merekatkan bibirnya sejenak dengan bibir Sungjong. Merasakan aroma tubuh namja itu beberapa detik, kemudian melepaskan tautan bibirnya.

“Dashin nugul saranghaji anheul geol ara (aku tahu aku tak mampu mencintai orang lain),” ia mencium kening Sung Jong lagi.

“Ya~ tapi kau tidak mengakui ku sebagai..”

“Psssttt…chu~” Myungsoo membungkam bibir Sungjong dengan tautan bibirnya.

“Apa yang harus ku lakukan untuk menebus kesalahanku?”

“Eumm…turun ke pantai dengan pants mu saja dan teriakan jika kau mencintaiku,” tantang Sung Jong.

Myungsoo menelan air liurnya, bukankah udara sangat dingin sekarang? Aigoo, apakah Sungjong bercanda?

“Baiklah, kita cari tempat yang ombaknya tak begitu ganas,” Myungsoo menarik tangan Sungjong, berlari di menembus kehampaan malam.

Sesaat kemudian Myungsoo memandang pantai di hadapannya. Tersenyum kembali pada Sungjong. Melepaskan jaket tebalnya yang melindungi dirinya dari dinginnya suhu di Korea saat ini. Lalu membuka t-shirt panjangnya, skiny jeans nya. Dan, kini hanya pants yang tertinggal membalut tubuhnya. Dinginkah? Tentu, bahkan bibir Myungsoo bergetar secara reflek.

Dia berlari cepat ke pinggiran pantai, berdiri diatas pasir putih. Sungjong terus tersenyum melihat kelakuan namja itu.

“Ya~ semuanya…!! Dengarkan aku~ aku mencintai LEE SUNG JONG, benar-benar mencintai LEE SUNG JONG, akan ku nikahi dia jika itu perlu,” teriaknya.

“Mwo?” Ucap Sungjong reflek.

Myungsoo berlari menghampiri Sungjong. Meraih tubuh kurus anak itu dan menggendongnya ke pinggiran pantai, bermain air diiringi tawa mereka.

-END-

^^

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 19, 2012 in Fanfiction

 

Tag: , , ,